» POLING OPINI
» Galeri
» Tag
akuntan Akuntansi Akuntansi Pemerintahan APBN audit audit fee bailout Bank Bank Century BBM BI BPK bursa Capital Ekonomi IFRS Indeks Persepsi Korupsi Inflow intermeso Keuangan Daerah Korupsi kredit krisis laporan keuangan Laporan Keuangan Pemda Likuiditas moratorium nilai tukar rupiah Opini pajak Pemekaran Pengawasan Intern Perbankan PSAK Resesi Rupiah salah saji sistem keuangan Sistem Pengendalian Internal soft skill suku bunga Tax Amnesty Umum Utang wajar tanpa pengecualian» Statistik
» maps.amung.us
» Komentar Terbaru
- Vino Satria Hidayat on Soal Ujian Akhir Semester Teori Portofolio dan Manajemen Investasi (TPMI) 2010
- Vino Satria Hidayat on intermezzo:Jika Wanita Diumpamakan Ikan, Kategori Ikan Apakah yang Jadi Favorit Anda?
- maurice dake on Intermeso:Saat Apple Melengserkan Microsoft dari Takhta Teknologi
- maurice dake on Pemekaran Melawan Efisiensi
- Tuti Mulyani on BPK Diaudit KAP Wisnu B Soewito & Rekan
- maurice dake on Dampak Konvergensi International Financial Reporting Standards (IFRS) Terhadap Bisnis
» Arsip
- August 2010 (1)
- July 2010 (6)
- June 2010 (4)
- May 2010 (1)
- April 2010 (1)
- March 2010 (1)
- January 2010 (8)
- December 2009 (16)
- November 2009 (10)
- October 2009 (12)
- September 2009 (1)
- August 2009 (4)
- July 2009 (4)
- June 2009 (4)
- May 2009 (7)
- April 2009 (7)
- March 2009 (14)
- February 2009 (16)
- January 2009 (10)
- December 2008 (11)
- November 2008 (29)
- October 2008 (30)
» posted on Sunday, March 1st, 2009 at 10:24 pm by aaron
Sistem Bilangan Besar
Anggaran belanja negara kita tahun ini menembus jumlah seribu triliun. Apakah satuan bilangan triliun merupakan bilangan yang terbesar? Ternyata tidak. Dalam sistem bilangan besar yang kita pakai sekarang di atas triliun (1012), masih ada kuadriliun (1015), kuintiliun (1018), sekstiliun (1021), septiliun (1024) oktiliun (1027), noniliun (1030), dan desiliun (1033). Pangkat 12 bilangan 10 artinya ada 12 nol di belakang angka 1 (satu); 1012 = 1.000.000.000.000.
Sistem di atas dipakai di Amerika Serikat, Rusia, dan Perancis. Terlihat di situ bahwa satuan bilangan besar sesudah triliun itu 1.000 kali lebih besar. Kuadriliun sama dengan 1.000 triliun, kuintiliun sama dengan 1.000 kuadriliun, sekstiliun sama dengan 1.000 kuintiliun, septiliun sama dengan 1.000 sekstiliun, oktiliun sama dengan 1.000 septiliun, noniliun sama dengan 1.000 oktiliun, dan desiliun sama dengan 1.000 noniliun.
Di samping itu ada sistem bilangan besar yang dianut Inggris, Belanda, dan Jerman. Di dalam sistem itu dua satuan bilangan besar di atas seribu adalah seribu kali bilangan sebelumnya. Seribu kali seribu sama dengan miliun, dan seribu miliun sama dengan miliar, yang di dalam sistem Amerika disebut biliun. Namun, satuan bilangan besar sesudah miliar/biliun adalah sejuta kali bilangan sebelumnya. Sejuta biliun/miliar adalah satu triliun (1024). Indonesia, bekas jajahan Belanda, mengikuti sistem yang dianut penjajahnya. Itulah sebabnya mengapa kita memakai miliar dan bukan biliun.
Akan tetapi, pada tahun 1978 terjadi pencampuran dalam sistem bilangan besar kita. Menteri keuangan pada waktu itu, sepulang perundingannya dengan pejabat IMF/Bank Dunia, memperkenalkan bilangan triliun yang senilai dengan bilangan biliun dalam sistem Belanda. Akibatnya, orang Indonesia dewasa ini mengikuti sistem Belanda hingga bilangan miliar, lalu beralih ke sistem Amerika dengan menggunakan nama bilangan triliun, yakni seribu miliar. Padahal, triliun dalam sistem Belanda adalah sejuta miliar. Karena kita sudah telanjur memakai sistem Amerika, maka satuan bilangan besar, yang seribu kali triliun, ialah kuadriliun. Anggaran belanja negara untuk 2009 sudah lebih dari kuadriliun.
Penyerapan nama satuan bilangan besar dari bahasa asing, dengan perubahan nilai, juga terjadi pada masa lampau. Peradaban Hindu dengan bahasa Sanskerta-nya memperkenalkan nama tiga satuan bilangan di atas seribu. Bilangan Sanskerta laksa yang nilai aslinya seratus ribu (105) diserap untuk mengacu ke bilangan 10.000; bilangan keti yang nilai aslinya sepuluh juta diserap dan memperoleh nilai 100.000 dalam bahasa Melayu.
Akhirnya, bilangan ayuta yang di dalam bahasa sumbernya bernilai 10.000 diserap dan kemudian menjadi juta dengan nilai yang dimilikinya sekarang. Numeralia laksa dan keti dalam kesadaran orang masa kini sudah bersifat arkais atau kuno. (sumber: moeliono, kompas, 27 Februari 2009)

Jzz said:
Jan 04, 10 at 6:43 pmthanks banget berkat ini gw bisa ngerjain tugas,,heheh..
:)) thanks bgt ya..