» POLING OPINI
» Galeri
» Tag
akuntan Akuntansi Akuntansi Pemerintahan APBN audit audit fee bailout Bank Bank Century BBM BI BPK bursa Capital Ekonomi IFRS Indeks Persepsi Korupsi Inflow intermeso Keuangan Daerah Korupsi kredit krisis laporan keuangan Laporan Keuangan Pemda Likuiditas moratorium nilai tukar rupiah Opini pajak Pemekaran Pengawasan Intern Perbankan PSAK Resesi Rupiah salah saji sistem keuangan Sistem Pengendalian Internal soft skill suku bunga Tax Amnesty Umum Utang wajar tanpa pengecualian» Statistik
» maps.amung.us
» Komentar Terbaru
- Vino Satria Hidayat on Soal Ujian Akhir Semester Teori Portofolio dan Manajemen Investasi (TPMI) 2010
- Vino Satria Hidayat on intermezzo:Jika Wanita Diumpamakan Ikan, Kategori Ikan Apakah yang Jadi Favorit Anda?
- maurice dake on Intermeso:Saat Apple Melengserkan Microsoft dari Takhta Teknologi
- maurice dake on Pemekaran Melawan Efisiensi
- Tuti Mulyani on BPK Diaudit KAP Wisnu B Soewito & Rekan
- maurice dake on Dampak Konvergensi International Financial Reporting Standards (IFRS) Terhadap Bisnis
» Arsip
- August 2010 (1)
- July 2010 (6)
- June 2010 (4)
- May 2010 (1)
- April 2010 (1)
- March 2010 (1)
- January 2010 (8)
- December 2009 (16)
- November 2009 (10)
- October 2009 (12)
- September 2009 (1)
- August 2009 (4)
- July 2009 (4)
- June 2009 (4)
- May 2009 (7)
- April 2009 (7)
- March 2009 (14)
- February 2009 (16)
- January 2009 (10)
- December 2008 (11)
- November 2008 (29)
- October 2008 (30)
» posted on Friday, October 2nd, 2009 at 11:49 am
Audit Internal 2009
Review artikel audit internal paling lambat diposting pada tanggal 7 Oktober 2009.
Terimakasih

Hasniah S. Harahap said:
Oct 07, 09 at 1:25 amREVIEW ARTIKEL:
EVALUASI PERAN AUDITOR INTERN DALAM MENILAI
RISIKO BISNIS PERBANKAN DI BPR SYARIAH
A. TUJUAN PENELITIAN
1. Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiric seberapa besar peran auditor intern dalam manajemen di BPR Syariah dalam rangka meminimalisir adanya risiko bisnis.
2. Selain itu juga untuk meneliti tentang seberapa besar peran manajemen risiko terhadap penanggulangan terjadinya keterpurukan sistem kontrol internal yang diterapkan didunia perbankan.
3. Juga untuk menganalisis konsekuensi pengaruh penempatan auditor intern dalam struktur organisasi perusahaan
B. PENELITIAN SEBELUMNYA
Adapun penelitian ini didukung oleh penelitian – penelitian sebelumnya, yaitu:
1. Pratt and Beaulieu (1992) yang menyatakan bahwa fungsi perusahaan yang dibedakan antara keuangan dan non-keuangan mempunyai pengaruh yang kuat terhadap budaya perusahaan. Hasil penelitian Pratt and Beaulieu tersebut mengemukakan bahwa perbedaan budaya perusahaan dipengaruhi oleh perbedaan bidang fungsional yang ada dalam suatu perusahaan. Secara khusus, penelitian ini ingin menjelaskan dan membandingkan secara kualitatif bagaimana peranan internal auditor dalam manajemen risiko antara auditor intern yang mempunyai posisi berbeda dalam struktur organisasi BPR Syariah.
2. McNamee (1998) mengemukakan 3 (tiga) elemen yang harus diperhatikan agar pemahaman dan pengelolaan lingkungan risiko berjalan sukses yaitu:
a. A means to thoroughly understand the business process.
b. A framework and language for discussing risk among managers and auditors.
c. A process to open up the imagination about significant risk potential
Hasil riset dari McNemee (1998) menunjukkan bahwa pemahaman atas risiko memberikan dampak pada efektifitas fungsi internal auditor.
3. Hasil survey yang dilakukan oleh KPMG (2002,www.kpmg.com) di delapan negara di Eropa menyatakan bahwa lebih dari 60% responden percaya bahwa sistem manajemen risiko dan internal kontrol dapat memberi nilai tambah bagi organisasi perusahaan.
C. METODE PENELITIANNYA
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif yaitu menggunakan data berupa kalimat tertulis atau lisan, perilaku, fenomena, peristiwa-peristiwa, pengetahuan atau obyek studi. Penelitian ini menggunakan pendekatan Multiple Case Study dengan Single Unit Analysis.
Analisis data selama berada di lapangan:
1. Analisis Domain, digunakan untuk memperoleh gambaran dan pengertian menyeluruh tentang peranan auditor intern dalam menangani risiko bisnis. Dalam memahami peran yang dijalankan oleh auditor intern maka dilakukan wawancara dengan direksi dan kepala operasional kantor. Hal ini dilakukan mengingat laporan dari auditor intern diketahui oleh direksi. Atas laporan tersebut direksi membuat kebijakan atau perintah melalaui kepala kantor untuk dijalankan oleh kepala operasional kantor. Sehingga selain mewawancarai direksi, juga dilakukan wawancara dengan kepala operasional.
2. Analisis Taksonomi, yang dituju dari analisis ini adalah struktur masingmasing bagian risiko bisnis dengan cara mengorganisasi atau menghimpun elemen yang sama dari jawaban auditor intern dari BPR Syariah yang menjadi responden.
3. Analisis Komponensial, yang dianalisis adalah masing-masing komponen risikobisnis yang kontras antara jawaban auditor intern dari BPR Syariah yang menjadi responden.
Unit Analisis
Berdasarkan pertanyaan penelitian dan proposisi, maka yang menjadi unit analisis penelitian adalah aktivitas pengendalian auditor intern yang bekerja di BPR Syariah di Jawa Timur.
Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh melalui open-ended kuesioner dan hasil wawancara dengan auditor intern dan direksi. Kuesioner disusun sesuai dengan rerangka konseptual dan proposisi atas peranan auditor intern dalam pengelolaan risiko bisnis bank syariah meliputi masalah operasional (efektivitas dan efisiensi operasi, pengamanan aktiva), masalah laporan keuangan (keandalan dan integritas informasi keuangan dan operasional) dan masalah kepatuhan (kepatuhan terhadap hukum, regulasi khususnya BI, kebijakan intern).
D. HASIL PENELITIAN
Posisi auditor intern dalam struktur organisasi perusahaan BPR Syariah mempunyai pola yang berbeda. Terdapat auditor intern yang merupakan bawahan langsung dari direksi, namun ada pula auditor intern BPR Syariah yang merupakan bawahan direksi namun mempunyai garis pertanggungjawaban ke komisaris. Kondisi ini memiliki relevansi dengan luasnya tugas dan tanggung jawab dari auditor intern. Namun apapun posisi auditor intern tergantung kepada situasi dan kondisi perusahaan serta tujuan yang hendak dicapai dalam pembentukan bagian Internal Audit. Mana yang terbaik dari kedua posisi auditor intern tersebut, hal ini tergantung pada tujuan yang hendak dicapai antara satu dengan perusahaan yang lain tentu saja tidak sama.
E. SUMBER
http://www.stitiv.ac.id/library/modul/EVALUASI%20PERAN%20AUDITOR%20INTERN%20DALAM%20MENILAI.pdf
Trie Faryanti said:
Oct 07, 09 at 2:21 pmNama : Tri Faryanti
Nim : 06 402 717
Article Review :
PENGARUH KOMITE AUDIT TERHADAP KUALITAS LABA
1.Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini antara lain :
a.Menguji perbedaan kualitas laba antara perusahaan yang memiliki dan tidak memiliki komite audit yang telah memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh BEJ.
b.Penelitian ini mengukur kualitas laba dengan koefisien responss laba (ERC).
2.Penelitian Sebelumnya
Beberapa peneliti telah mengukur kualitas laba dengan ERC antara lain Balsam et al. (2003), Teoh dan Wong (1993), Fan dan Wong (2003), Choi dan Jeter (1998), dan Warfield et al. (1998).
a. Penelitian mengenai hubungan antara komite audit dengan kualitas laporan keungan pada mulanya menguji pengaruh keberadaan komite audit terhadap kualitas laporan keuangan. DeFond dan Jiambalvo (1991) meneliti faktor-faktor yang berhubungan dengan perusahaan publik yang melaporkan laba tahunan lebih tinggi daripada yang seharusnya untuk periode 1977—1988.
b.DeFond dan Jiambalvo (1991) meneliti faktor-faktor yang berhubungan dengan perusahaan publik yang melaporkan laba tahunan lebih tinggi daripada yang seharusnya untuk periode 1977—1988.
c. McMulen (1996) menemukan bahwa komiteaudit berhubungan dengan lebih sedikit tuntutan hukum pemegang saham karena kecurangan, lebih sedikit pelaporan kembali laba kuartalan, lebih sedikit tindakan ilegal, lebih sedikit pergantian auditor ketika terdapat selisih pendapat antara klien dan auditor.
d.Menurut Cho dan Jung 1991, ERC mengukur pengaruh dari satu dolar laba kejutan terhadap return saham dan diukur sebagai slopa dalam regresi return abnormal saham dan unexpected earnings.
Penelitian sebelumnya yang telah menggunakan ERC sebagai ukuran kualitas laba antara lain :
a.Choi dan Jeter (1990) menemukan bahwa ERC secara umum menurun pada periode setelah diberikan opini audit tidak wajar.
b.Teoh dan Wong (1993) meneliti pengaruh persepsi kualitas auditor terhadap koefisien respons laba.
Beberapa penelitian telah menguji hubungan antara ERC dan karakteristik komite audit. Anderson et al. (2003) menemukan bahwa karakteristik komite audit (independensi, aktivitas dan
ukuran komite audit) mempengaruhi kandungan informasi dari laba yang diukur dengan ERC.
3.METODE
a.Sampel dan Data Penelitian
Sampel perusahaan adalah perusahaan manufaktur dan nonmanufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ). Pemilihan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling, yaitu metode pemilihan sampel dengan beberapa kriteria tertentu.
Data yang digunakan adalah sebagai berikut.
1. Data komite audit berupa pengumuman yang dikeluarkan oleh BEJ mengenai perusahaan yang telah membentuk dan belum membentuk komite audit yang telah memenuhi syarat.
2. Data laporan keuangan kuartalan meliputi laba operasi untuk laporan keuangan kuartalan
3. Data return abnormal kumulatif sekitar tanggal pengumuman laporan keuangan kuartalan dan laporan keuangan kuartalan untuk setiap perusahaan yang terdaftar di BEJ pada tahun 2001 sampai dengan 2002.
b. Variabel Penelitian
Cumulatif Abnormal Return (CAR).
Penelitian menggunakaan metode studi peristiwa. Return tidak normal
terjadi karena adanya informasi baru mengubah ekspektasi return investor. Return ekspektasi dihitung dengan cara mengurangkan return sesungguhnya dengan return ekspektasian sebagai berikut:
ARi,t = Ri,t – E [Ri,t] (1)
Dalam hal ini:
ARi,t = return tidak normal sekuritas ke-i pada periode peristiwa ke-t
Ri,t = return sesungguhnya sekuritas ke-i pada periode peristiwa ke-t
E[Ri,t] = return ekspektasian sekuritas ke-i pada periode peristiwa ke-t
Return ekspektasi diestimasi dengan model pasar.
c.Pengujian Koefisien Respons Laba
Penelitian berusaha menguji hipotesis bahwa ERC perusahaan yang membentuk komite audit independen lebih besar daripada perusahaan yang tidak membentuk komite audit independen. Koefisien respons laba diestimasi dengan a pendekatan firm spesific coefficient methodology (FSCM).
d.Analisis Sensitifitas
Cara lain untuk menguji pengaruh komite audit terhadap koefisien respons laba adalah dengan cara mengembangkan model regresi cross-sectional (CRSM). Imhoff dan Lobo (1992) dan Suwardjono (1997) mengembangkan model interaksi sebagai berikut:
CARi[t1,t2]r = ?0 + ?1 UEi,t + ?2 KOMITExUEi,t +?3 KOMITEi,t +?r (6)
Dalam hal ini:
CARit= return tidak normal perusahaan i yang disebabkan oleh peristiwa pengumuman laba. UEit = laba kejutan untuk perusahaan i pada pengumuman laba.KOMITE = variabel dummy (1 apabila perusahaan memiliki komite audit yang memenuhi syarat, 0 apabila perusahaan tidak memiliki komite audit yang memenuhi syarat).
4.HASIL
Hasil pengujian menunjukkan adanya perbedaan koefisien respons laba perusahaan yang membentuk komite audit dan perusahaan yang tidak membentuk komite audit. Pengujian dengan menggunakan metode FSCM dan CRSM menunjukkan hasil yang sama bahwa koefisien respons laba perusahaan yang membentuk komite audit secara statistis lebih besar daripada perusahaan yang tidak membentuk komite audit.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasar menilai laba yang dilaporkan oleh perusahaan yang membentuk komite audit memiliki kualitas yang lebih baik daripada laba yang dilaporkan oleh perusahaan yang tidak membentuk komite audit. Koefisien respons laba yang lebih tinggi untuk perusahaan yang membentuk komite audit menunjukkan bahwa pasar menilai komite telah melaksanakan perannya dengan baik, terutama dalam memonitor proses pelaporan keuangan.
5.SUMBER
Article review ini bersumber dari :
http://www.akademik.unsri.ac.id/download/agung%20suaryana.pdf
Jihan Farida said:
Oct 07, 09 at 2:24 pmNAMA : JIHAN FARIDA
N I M : 06 402 680
PENGARUH KUALITAS JASA AUDITOR INTERNAL TERHADAP
EFEKTIVITAS PENGENDALIAN INTERN PADA HOTEL BERBINTANG
EMPAT DAN LIMA DI BALI
I KETUT YADNYANA
ARTICLE REVIEW
1.Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk bukti-bukti empiris mengenai pengaruh jasa auditor internal terhadap efektivitas pengendalian intern pada Hotel Berbintang Empat dan Lima di Bali.
2.Penelitian Sebelumnya
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan sebelumnya oleh Jayanthi Krishnan (2005) yang meneliti kualitas auditorinternal dan pengendalian intern: suatu analisis empiris. Hasilnyamemberikan indikasi bahwa independen auditor internal dengan keahlian bidang keuangan adalah signifikan jika dikaitkan dengan kejadian masalahmasalah pengendalian intern.
3.Metode Penelitian
Pengujian kesahihan instrumen penelitian ini dilakukan dengan melihat setiap skor butir berkorelasi dengan skor total lebih besar dari 0,40 (Tjahjadi, 2004). Sebaliknya, Sugiyono (2005) berpendapat bila korelasi tiap faktor tersebut positif dan besarnya 0,30 ke atas, maka faktor tersebut merupakan konstruk yang kuat. Pengukuran reliabilitas dilakukan dengan menggunakan Cronbach alpha.
Populasi penelitian ini adalah semua perusahaan hotel berbintang empat dan lima yang beroperasi di Provinsi Bali. Berdasarkan data dari Kantor Dinas Pariwisata Provinsi Bali, jumlah hotel berbintang empat dan lima yang ada dan masih beroperasi hingga akhir tahun 2006 adalah 38 dan 30 (Dinas Pariwisata Provinsi Bali, 2006). Teknik penarikan sampel yang digunakan adalah proportional stratified random sampling. Untuk menentukan alokasi unit ke dalam strata digunakan prinsip alokasi proporsional. Dengan populasi sebesar 68, maka jumlah sampelnya adalah 56. Karena populasinya berstrata, maka jumlah sampelnya juga berstrata. Uji asumsi klasik yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji multikolinieritas, autokorelasi, dan heteroskedastisitas. Data yang telah dikumpulkan dianalisis dengan menggunakan analisis regresi berganda (multiple regression) dengan model matematika sebagai berikut.
Y = ß0 + ß1X1 + ß2X2 + ß3X3 + ß4X4 + ß5X5 + E
Keterangan:
Y = efektivitas pengendalian intern
ß0 = konstanta
ßi = koefisien regresi, i = 1, 2, …., 5.
X1 = independensi
X2 = keahlian profesional
X3 = lingkup kerja pemeriksaan
X4 = pelaksanaan pekerjaan pemeriksaan
7
X5 = pengelolaan bagian pemeriksaan intern
e = variabel pengganggu
Untuk mencari besarnya sumbangan variabel X terhadap Y, ukuran yang digunakan adalah koefisien determinasi (R2). Hasil perhitungan Fhitung akan dibandingkan dengan Ftabel pada derajat kebebasan (db) = (n-k-1), dimana k adalah banyaknya variabel dan n adalah ukuran sampel. Jika F hitung lebih besar dari Ftabel, berarti Ho ditolak. Prosedur pengujian hipotesis statistiknya adalah dengan uji F dan uji t. Uji F bertujuan untu melihat pengaruh secara simultan (seluruh variabel bebas secara bersama-sama terhadap variabel terikat). Uji t bertujuan untuk melihat pengaruh tiap-tiap variabel bebas secara parsial terhadap variabel terikat. Hasi perhitungan t hitung kemudian dibandingkan dengan nilai t tabel pada db = (n-k-1). Bila t hitung lebih besar dari t tabel, berarti H0 ditolak, sedangkan H1 diterima. Artinya bahwa variabel bebas tersebut berpengaruh terhadap variabel terikat.
4.Hasil dan Pembahasan
Pengujian Instrumen
Pengujian terhadap reliabilitas dan validitas instrumen penelitian perlu dilakukan berdasarkan data hasil penelitian lapangan. Pengujian instrumen penelitian menunjukkan bahwa semua butir pernyataan untuk mengukur variabel kualitas jasa auditor internal dan efektivitas pengendalian intern dinyatakan valid karena setiap skor butir berkorelasi dengan skor total lebih besar dari 0,30 pada tingkat signifikan 5%. Pengujian terhadap reliabilitasinstrumen penelitian menunjukkan bahwa nilai cronbach alpha lebih besar dari 0,70. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa instrumen penelitian untuk mengukur variabel kualitas jasa auditor dinyatakan reliabel.
5.Sumber
http://www.akademik.unsri.ac.id/download/journal/…/ok%20yadnyana.pdf
Maria Antoh said:
Oct 07, 09 at 5:09 pmREVIEW ARTIKEL
PENGARUH ORIENTASI ETIKA TERHADAP KOMITMEN, DAN SENSITIVITAS ETIKA AUDITOR PEMERINTAH DI DKI JAKARTA
1. Tujuan Penelitian
Penelitian ini di lakukan dengan tujuan untuk mengetahui:
? Pengaruh idealisme terhadap komitmen pada provesi
? Pengaruh relavitisme terhadap komitmen pada provesi
? Pengaruh idealisme terhadap komitmen pada organisasi tempatnya bekerja
? Pengaruh relativisme terhadap komitmen pada organisasi tempatnya bekerja
? Pengaruh idealisme terhadap sensitivitas etika
? Pengaruh relativisme terhadap sensitivitas etikan
? Pengaruh komitmen pada profesi terhadap komitmen pada organisasi tempatnya bekerja
? Pengaruh komitmen provesi terhadap sensitivitas etika
? Pengarug komitmen auditor pemerintah di DKI Jakarta pada organisasi tempatnya bekerja terhadap sensitivitas etikanya
2. PENELITI SEBELUMNYA
a. Etika dalam Akutansi
Masalah etika merupakan masalah yang selalu di hadapi dalam profesi akuntansi karena akuntansi memiliki dua tuan yang harus di layaninya, yaitu klien dan masyarakat atau publik (Westra 1986:120). Hal ini berkaitan dengan penyajian laporan keuangan yang wajar fair (shaub 1993:146). Pendapat ini di dukung oleh wahyudi prakarsa yang menyatakan bahwa seorang auditor memikul tanggung jawab ganda, pertama kepada para nasabah atau klien yang membeyar fees untuk pekerjaan provesional yang di lakukan, dan kedua kepada publik untuk melaporkan fairness dari laporan keuangan (1995:4).
b. Orientasi Etika
Menurut Cohen et al (1980:171), setiap tindakan individu pertama-tama di tentukan oleh kebutuhannya kebutuhan-kebutuhan tersebut, setelah berinteraksi dengan pengalaman-pengalaman pribadi dan sistem nilai individu, akan menentukan harapan-harapan atau tujuan-tujuan dalam setiap perilakunya, individu tersebut menentukan tindakan apa yang akan di lakukan.
Sedangkan Forsyth (1980:175) mengatakan bahwa orientasi etiaka di kendalikan oleh dua karakteristik, yaitu idealisme dan relativisme idealisme mengacu pada suatu hal yang di percaya oleh individu, dengan konsekuensi yang di miliki dan di ingginkannya tidak di malenggar nilai-nilai moral. Relativisme adalah suatu sikap penolakan terhadap nilai-nilai moral yang apsolut dalam mengarahkan perilaku.
c. Komitmen Organisasi dan Profesi dalam Akuntansi
Komitmen organisasi dan komitmen provesi dalam profesi akuntansi telah ditelaah sejak lama. Konsep-konsep ini di tunjukan adanya hubungan antara konflik internal yang di hadapi oleh para profesional, kepuasan bekerja dan tingkat turnover auditor. Komitmen organisasi dan komitmen provesi dapat di definisikan sebagai intensitas seorang untuk mengidentifikasikan dirinya. Serta tingkat keterlibatannya, dalam organisasi atau profesi (Mowday et el, dalam shaud: 1993:148) identifikasi ini memerlukan beberapa tingkat persetujuan dengan tujuan dan nilai dalam organisasi dan profesi, termaksud di dalamnya nilai-nilai moral atau etika. Aranya dan Ferris (1984:2) mendefinisikan komitmen sebagai suatu kepercayaan dan penerimaan pada tujuan dan nilai dalam suatu arganisasi atau profesi, kemauan nutuk melakukan usaha yang di butuhkan bagi organisasi atau profesi. Kemauan untuk melakukan usaha yang di butuhkan bagi organisasi atau provesi, keinginan untuk menjaga keanggotaan dengan organisasi atau profesi.
3. METODE YANG DI PAKAI
a. Rancangan Metode Penelitian
Penelitian pengaruh orientasi etika terhadap komitmen dan sensitifitas etika auditor pemerintah ini, berjuang untuk menggambarkan secara cermat orientasi auditor yang di ukur dengan tingkat idealisme atau tingkat Relatifisme, tingkat komitmen profesi, tingkat komitmen organisasi auditor pemerintah di DKI Jakarta, juga bertujuan untuk menyelidiki hubungan baik secara langsung maupun tidak langsung antara tingkat idealisme atau relativisme auditor dengan tingkat komitmenya pada organisasi tempatya bekerja, tingkat komitmenya pada profesi dan sensitifitas etikanya. Selain itu juga akan di ukur sejauh mana faktor-faktor itu berkaitan satu sama lain yang di hitung berdasarkan koifisien lintasan . dengan demikian desaen penelitian yang di pilih adalah desaen deskriptif yang korelasional.
b. Variabel dana Pengukuran
Berdasarkan variabel- varabel yang ada dalam artikel ini, diukur dengan skala Likert 7 (Tujuh) kategori, sebagai mana yang telah digunakan oleh peneliti sebelumnya (Shaubetal: 1993).
Ketujuh kategori yang di gunakan untuk mengukur tingkat Idealisme dan Relativisme, tingkat komitmen organisasi, serta tingkat komitmen profesi adalah:
a) Sangat setuju
b) Sutuju
c) Agak setuju
d) Antara setuju dan tidak setuju
e) Agak tidak setuju
f) Tidak setuju
g) Sangat tidak setuju
sedang untuk mengukur sensitivitas Etika di gunakan kategori:
a) Sangat penting
b) Penting
c) Kurang penting
d) Antara penting dan tidak penting
e) Agar tidak penting
f) Tidak penting
g) Sangat tidak penting
c. Prosedur Pengambilan Sampel
Dalam rangka mencapai tujuan penelitian, penelitian melakukan pengamatan terhadap Auditor pemerintah yang bekerja di BPKP perwakilan DKI Jakarta, guna memperoleh data tentang tingkat idealisme atau relativisme auditor pemerintah, tingkat komitmen profesi maupun organisasinya, serta tingkat sensitivitasnya.
d. Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data tentang tingkat idealisme dan Relativisme digunakan kuenstioner yang di kembangkanoleh Forsyth (1980), sedangkan instrumen untuk memperoleh data tingkat komitmen organisasi dan komitmen provesi disusun berdasarkan data yang di ambil dari hasil penelitian Aranya and Ferris (1984). Data mengenai sensitifitas Etika Auditor di peroleh dengan menggunakan suatu skenaryo Sensitivitas Etika yang disusun oleh Shaub et al .(1993). Dan disusun kembali agar sesuai dengan kondisi yang ada di Indonesia.
e. Metode Analisa
Untuk analisa data di gunakan analisa jalur (path analysis). Untuk penulisan data di gunakan program SPSS (statistical package for Social Selences)
4. HASIL
Hasil penelitian sebagai berikut :
1) Idealisme mempunyai pengaruh positif terhadap komitmen auditor pada profesinya. Hal ini berarti semakin tinggi tingkat idealisme auditor maka akan semakin tinggi pula tingkat komitmen auditor terhadap profesi auditornya.
2) Penelitian ini tidak berhasil menunjukan bahwa relativisme mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap komitmen auditor pada profesinya.
3) Dalam hubungannya dengan komitmen organisasi tempat auditor bekerja, idealisme tidak mempunyai pengaruh langsung. Namun idealisme tersebut mempunyai pengaruh hubungan secara tidak langsung yaitu melalui komitmen auditor pada profesinya.
4) Pengaruh variabel relativisme terhadap komitmen auditor pada organisasi tempatnya bekerja,tidak mempunyai pengaruh baik secara langsung maupun secara tidak langsung.
5) Pengaruh variabel idealisme, relativisme, serta komitmen organisasi tidak mempunyai pengaruh secara langsung terhadap variabel sensitivitas.
6) Hubungan komitmen pada profesi terhadap komitmen pada organisasi tempatnya bekerja sangat besar.
7) Variabel komitmen profesi mempunyai pengaruh secara langsung maupun tidak langsung terhadap sensitivitas etika.
5. Sumber
Jurnal Riset akuntansi Indonesia.Vol. I, No. I, Januari 1998 ( Hal 13-28)
Dina Roslina M. Wally said:
Oct 07, 09 at 7:34 pmREVIEW ARTIKEL
PENGUJIAN VARIABEL YANG BERPENGARUH
TERHADAP EKSPEKTASI KLIEN DALAM AUDIT JUDGMENT
1. Tujuan
Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah : untuk menguji variable-variabel yang berpengaruh terhadap ekspektasi klien dalam audit judgement.
2. Penelitian Sebelumnya
DeA0ngelo (1991)
Menyatakan bahwa honor audit pada tahun-tahun awal ditetapkan dengan biaya yang rendah dan honor audit meningkat di tahun-tahun sebelumnya (untuk memungkinkan auditor menutup investasi awal tersebut).
Iyer dan Rama (2004)
Menyatakan bahwa hubungan klien dengan KAP mempunyai pengaruh negative dan signifikan terhadap ekspektasi klien dalam audit judgement. Mereka juga menyatakan bahwa pentingnya klien bagi KAP berpengaruh positif dan signifikan terhadap ekspektasi klien dalam audit judgement.
Wright dan Wright (1997)
Menemukan bahwa para auditor kecil kemungkinannya mengusulkan jurnal koreksi (audit adjustment) untuk kesalahan-kesalahan yang terdeteksi di dalam audit klien yang lebih besar.
Trumpeter (1994)
Mencatat hubungan antara kompensasi yang diberikan kepada pimpinan KAP dengan judgement auditor. Khususnya, dia menemukan bahwa kemampuan auditor untuk bertahan terhadap tekanan yang diberikan klien adalah dikaitkan dengan jenis kompensasi yang diberikan kepada pimpinan KAP.
Goldman dan Barlev ( 1974)
Menyatakan KAP yang memberikan jasa-jasa non audit pada klien akan dapat meningkatkan pengetahuan auditor mengenai klien sehingga akan meningkat kekuasaan relative auditor pada saat bernegosiasi dengan klien.
Pasewark dan Wilkerson (1989)
Menyatakan bahwa pegawai klien yang pernah bekerja di KAP lebih besar kemungkinannya untuk mengetahui standar auditing dan proses audit.
3. Metode Penelitian
Populasi Dan Teknik Pengambilan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh anggota IAI-KAM yang bekerja di perusahaan-perusahaan di Indonesia. Metode pengambilan sample menggunakan metode Sampling Bertahap (Multistage Sampling Methode). Data dikumpulkan dengan cara mengirimkan kuisioner melalui Pos kepada 324 orang anggota IAI-KAM yang bekerja pada perusahaan-perusahaan di Indonesia, pengambilan jawaban kuisioner dikirimkan melalui pos juga.
Variabel-variabel dalam penilitian ini terdiri dari :
1. Variabel dependen
Dalam penelitian ini adalah klien dalam audit judgment
2. Variabel independen
Dalam penelitian ini adalah hubungan klien dengan KAP, pentingnya klien bagi KAP jasa non-audit yang diberikan oleh KAP dan pengalaman audit klien.
4. Hasil Penelitian
Hubungan klien dengan KAP memiliki pengaruh begatif dan signifikan terhadap ekspektasi klien dalam audit judgement artinya bahwa nereka akan dapat mendesak KAP. Hasil ini konsisten dengan penelitian Iyer dan Rama (2004); Copley dan Doucet (1983); Brody dan Moscofe (1998); DeA0ngelo (1991); Dye (1991).
Pentingnya klien bagi KAP memiliki pengeruh positif dan signifikan terhadap ekspektasi klien dalam audit jugement. Artinya para klien meyakini bahwa mereka akan lebih besar kemungkinannya untuk dapat mendesak KAP jika bisnis mereka merupakan hal yang penting bagi KAP.
5. Sumber
Simposium Nasional Akuntansi (SNA) VIII Solo, 15-16 September 2005
cornelia matani said:
Oct 07, 09 at 7:38 pmNAMA : CORNELIA D. MATANI
NIM : 05 501 257
“ HUBUNGAN CORPORATE GOVERNANCE DAN KINERJA PERUSAHAAN “
(Article Review)
A. Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi keterkaitan corporate governance yang diterapkan dalam suatu perusahaan dengan kinerja perusahaan yang bersangkutan.
Penelitian ini juga bertujuan menguji kembali penelitian- penelitian sebelumnya dan berbeda dalam hal pengukuran variable corporate governance yang telah disesuaikan dengan kondisi lingkungan bisnis di Indonesia.
B. Penelitian sebelumnya
Beberapa penelitian tentang corporate governance di tingkat perusahaan sebagian besar dilakukan di Amerika dan perusahaan- perusahaan yang tergabung dalam OECD (Organization for Economic Co-operation and Development)(lihat, missal, survey yang dilakukan oleh Sleifer dan Vishny, 1997). Penelitian yang dilakukan di negara sedang berkembang masih sangat sedikit dilakukan. Black (2001) berargumen bahwa pengaruh praktik corporate governance terhadap nilai perisahaan akan lebih kuat di negara berkembang dibandingkan di negara maju. Hal tersebut dikarenakan oleh lebih bervariasinya praktik corporate governance di negara berkembang dibandingkan negara maju. Durnev dan Kim (2002) memberikan bukti bahwa praktik corporate governance lebih bervariasi di negara yang memiliki lingkungan hukum yang lebih lemah.
Menurut Berghe dan Rideder (1999), menghubungkan kinerja perusahaan dengan good governance tidak mudah dilakukan. Beberapa penelitian menunjukkan tidak ada hubungan corporate governance dengan kinerja perusahaan, misalnya penelitian Daily, dkk. (1998) dan hasil survey CBI, Deloitte dan Touche (1996) sebagaimana yang dikutip oleh Kakabadse, dkk. (2001). Demikian juga dengan Young (2003) yang menganalisis beberapa penelitian yang menghubungkan corporate governance dengan kinerja perusahaan. Dilain pihak, berdasarkan beberapa hasil penelitian, Berghe dan Ridder menyatakan bahwa perusahaan yang memiliki poor performace disebabkan oleh poor governance. Pernyataan ini diduking oleh penelitian Gompers, dkk. (2003) yang menemukan hubungan positif antara indeks corporate governance dengan kinerja perusahaan jangka panjang.
Menurut Kakabadse,dkk, (2001) perbedaan hasil penelitian tersebut disebabkan oleh beberapa hal, yaitu :
1) Perspektif teoritis yang diterapkan
2) Metodologi penelitian
3) Pengukuran kinerja, dan
4) Perbedaan pandangan atas keterlibatan dewan dalam pengambilan keputusan
Walaupun penelitian- penelitian tentang hubungan corporate governance dengan kinerja perusahaan menunjukkan hasil yang berbeda, namun semuanya menyatakan bahwa corporate governance mempunyai pengaruh tidak langsung terhadap kinerja perusahaan.
C. Metoda Penelitian
1) Sampel dan Data
Penentuan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metoda purposive sampling. Pemilihan sampel berkaitan dengan data corporate governance yang digunakan dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh oleh The Indonesian Institute for Corporate Governance (IICG) di tahun 2001 dan 2002 .
2) Variabel
Variabel dependen penelitian ini adalah kinerja perusahaan. Dalam penelitian ini kinerja oerusahaan diukur dengan menggunakan Tobins’s q sebagai ukuran penilaina pasar ( Klapper dan Love, 2002; Black dkk.2003) dan return on equity (ROE) sebagai ukuran kinerja operasional perusahaan ( Klapper dan Love, 2002)
3) Variabel independen
Variabel iundependen penelitian ini adalah corporate governance. Variabel ini diukur dengan menggunakan instrument yang dikembangkan oleh IICG (2001,2002). Berdasarkan hasil survey, maka diperoleh Corporate Governance Perceptioan Index (CGPI) yang merupakan gabungan dari 7 komponen, yaitu :
a. Komitmen terhadap corporate governance
b. Hak pemegang saham
c. Tata kelola dewan komisaris
d. Komite- komite fungsional ( yang membantu tata kelola dewan komisaris)
e. Direksi
f. Transparansi, dan
g. Hubungan dengan stakeholders
4) Metoda Analisis Data
Penelitian ini menggunakan alat analisis regresi berganda.
D. Hasil
1) Analisis Deskriptif
Berdasarkan analisis statistik deskriptif bahwa penerapan corporate governance pada perusahaan- perusahaan di Indonesia, yang diwakili oleh sampel penelitian yang ada masih belum begitu bagus. Dengan rata- rata nilai skor kurang dari 60 pada skala 100.
2) Uji Asumsi Klasik
a. Hasil Uji Multikolinier
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak adanya masalah multikolinieer Karena variable indeks persepsi corporate governance memiliki nilai VIF sebesar 1,224. Variabel komposisi aktiva memiliki nilai VIF sebesar 1,075. Variabel kesempatan tumbuh memiliki VIF sebesar 1,306. Variabel ukuran perusahaan memiliki nilai VIF sebesar 1,497.
b. Hasil Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi dilakukan dengan menghitung nilai Durbin-Watson d Statistic. Dengan demikian, untuk model regresi dengan Return on Equity sebagai variabel dependen, tidak dapat dinyatakan apakah model regresi tersebut mengalami autokorelasi atau tidak.
c. Hasil Uji Heteroskedastisitas
Model regresi dengan variabel dependen return on equity, variabel indeks persepsi corporate governance mengalami masalah heteroskedastisitas, sedangkan variabel- variabel kontrol tidak mengalami masalah heteroskedastisitas. Uji heteroskedastisitas dilakukan dengan menggunakan uji Glejser. Model regresi dengan menggunakan variabel dependen Tobin’q, tidak ada satupun variabel independen yang mengalami heteroskedastisitas.
d. Uji Hipotesis
Uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan dua model regresi. Model regresi pertama menggunakan retun on equity sebagai ukuran kinerja ( variabel depende), sedangkan model regresi kedua menggunakan tobin’q sebagai ukuran kinerja. Hasil pengujian pertama menunjukkan bahwa, hanya variabel corporate governance yang secara statistik signifikan mempengaruhi retun on equity. Sedangkan tidak ada satupun variabel kontrol yang secara statistik signifikan mempengaruhi return on equity. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa hipotesis penelitian didukung, yaitu bahwa corporate governance mempengaruhi kinerja operasi perusahaan.
Berdasarkan hasil analisis, dapat disimpulkan bahwa corporate governance baru bisa memiliki keterkaitan dengan kinerja operasi perusahaan. Variabel corporate governance belum mampu mempengaruhi kinerja pasar perusahaan. Hal ini mungkin dikarenakan respon pasar terhadap implementasi corporate governance tidak bisa secara langsung (imediate) akan tetapi membutuhkan waktu. Penelitian ini memberikan tambahan bukti penelitian Gompers dkk. (2003) yang menemukan hubungan positif antara indeks corporate governance dengan kinerja perusahaan jangka panjang.
E. Sumber
* Jurnal Riset Akuntansi Indonesia Vol. 8, No.1, Januari 2005 hal. 65-81 “ Hubungan Corporate Governance dan Kinerja Perusahaan “
IHSAN PUJIYANTO said:
Oct 07, 09 at 7:42 pmNAMA : IHSAN PUJIYANTO
NIM : 06 402 676
ARTICLE REVIEW
INTERNAL AUDITOR DAN DILEMA ETIKA
I. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empirik pengalaman audit, komitmen profesional, orientasi etika dan nilai etika organisasi berpengaruh terhadap pengambilan keputusan etis internal auditor dalam situasi dilema etika. Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk memberikan masukan mengenai implikasi pengalaman audit, komitmen profesional, orientasi etika dan nilai etika organisasi terhadap pengambilan keputusan etis internal auditor dalam situasi dilema etika.
II. Peneliutian Sebelumnya
1. Damman (2003) menyatakan bahwa sebenarnya akuntan di dalam aktivitas auditnya banyak hal yang harus dipertimbangkan, karena dalam diri auditor mewakili banyak kepentingan yang melekat dalam proses audit (built-in conflict of interest). Seringkali dalam pelaksanaan aktivitas auditing, seorang auditor berada dalam konflik audit (Tsui, 1996; Tsui dan Gul, 1996).
2. Finn et.al. (1988) dan Bazerman et.al. (1997) menyatakan bahwa akuntan seringkali dihadapkan pada situasi adanya dilema yang menyebabkan dan memungkinkan akuntan tidak dapat independen. Akuntan diminta untuk tetap independen dari klien, tetapi pada saat yang sama kebutuhan mereka tergantung kepada klien karena fee yang diterimanya, sehingga seringkali akuntan berada dalam situasi dilematis.
3. (Adams, 1994; Bou-Raad, 2000) menyatakan bahwa Kualitas auditing internal yang dijalankan akan berhubungan dengan kompetensi dan obyektivitas dari staf internal auditor organisasi tersebut
4. (Arnold dan Ponemon, 1991), Kemampuan internal auditor untuk membuat keputusan yang akan diambil ketika menghadapi situasi dilema etika akan sangat bergantung kepada berbagai hal, karena keputusan yang diambil oleh internal auditor juga akan banyak berpengaruh kepada organisasi dan konstituen di mana dia berada.
III. Metode Penelitian
1 Kuesioner
• Nilai Etika Organisasi. Nilai etika organisasi diukur dengan menggunakan item pertanyaan Corporate Ethical Value (CEV) yang diadaptasi dari Hunt et.al. (1989). CEV menggambarkan tingkat persepsi pekerja terhadap perilaku etis organisasinya, yaitu bagaimana organisasi mempersepsikan dan memperhatikan terhadap isu-isu etika di lingkungan organisasi itu sendiri.
• Orientasi Etika. Variabel orientasi etika dalam penelitian ini menggunakan instrumen yang disusun oleh Forsyth (1980) yaitu Ethics Position Questionaire (EPQ) yang terdiri dari 20 item kuesioner. EPQ telah banyak digunakan untuk mengukur idealisme dan relativisme, yang merupakan 2 faktor dasar yang paling dari nilai etika individual seperti yang dibahas pada landasan teoritik di awal proposal.
• Komitmen Profesional. Variabel ini dioperasionalisasikan dengan tingkat identifikasi komitmen dan keterlibatan individu dalam profesi. Variabel ini di ukur dengan menggunakan 14 item pertanyaan yang di adopsi dari Jefrey dan Weaterholt (1996).
• Pengalaman Kerja. Variabel pengalaman kerja auditor diukur dengan meminta subyek penelitian mengisi pengalaman kerja mereka berapa lama mereka bekerja sebagai internal auditor dalam satuan tahun dan bulan
• Pengambilan Keputusan Etis. Variabel pengambilan keputusan etis diukur dengan instrumen yang diadaptasi dari Sims (1999) dan disusun oleh peneliti sendiri. Penggunaan skenario ini akan membantu untuk menstandarisasikan stimulus sosial dari responden dan pada saat bersamaan merupakan gambaran yang lebih nyata dalam proses pembuatan keputusan etis.
2. Subyek Penelitian
Subyek penelitian ini adalah para internal auditor
3. Reliabilitas Pengukuran
Reliabilitas masing-masing konstrak diukur dengan menggunakan criteria Cronbach Alpha dengan koefisien 0,6211 untuk Nilai Etika Organisasi, 0,8326 untuk Orientasi Etika Idealisme, 0,8283 untuk Orientasi Etika Nonrelativisme, 0,9187 untuk konstrak Komitmen Profesional dan 0,8826 untuk Pengambilan Keputusan Etis.
4. Validitas Pengukuran
Pengujian validitas data dalam penelitian ini dilakukan dengan melalui pengujian validitas konvergen dengan menggunakan confirmatory factor analysis dengan menggunakan perangkat lunak Amos versi 4.01.
IV. Hasil
Berdasarkan pembuktian empiris terhadap model konseptual yang disusun di awal penelitian maka dapat diberikan kesimpulan umum bahwa nilai etika organisasi, orientasi etika dan komitmen profesional secara individu maupun simultan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pengambilan keputusan etis internal auditor dalam situasi dilema etika. Nilai etika organisasi sebagai faktor situasional individu mempunyai pengaruh yang dignifikan terhadap orientasi etika internal auditor. Orientasi etika auditor mempunyai pengaruh yang positif terhadap komitmen profesi, dan kemudian secara bersama-sama keduanya mempunyai hubungan positif dengan pengambilan keputusan etis internal auditor dalam situasi dilema etika. Dalam penelitian ini tidak ditemukan pengaruh
V. Sumber
http://www.theakuntan.com/wp-content/…/auditor-dan-dilema-etika.pdf
MUHAMMAD AYUBI. T said:
Oct 07, 09 at 7:59 pmNAMA : MUHAMMAD AYUBI. T
N I M : 06 402 694
ANALISIS BEBERAPA FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP
PROSES PENGEMBANGAN KUALITAS SISTEM
(ATICLE REVIEW)
1. Tujuan
Ketergantungan dunia usaha pada sistem-sistem perangkat lunak sekarang ini makin meningkat, namun satu hal yang perlu diperhatikan dalam menjalankan sistem tersebut harus sesuai dengan spesifikasi, agar dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan pemakainya. Walaupun upaya untuk meningkatkan pengembangan sistem perangkat lunak terus-menerus dilakukan, namun untuk mendapatkan perangkat lunak yang berkualitas, diantara sekian banyak perangkat lunak yang ada sekarang ini tetaplah sangat sulit. Fok, Fok, dan Hartman (2001) menemukan bahwa programTotal Quality Management(TQM) dapat membantu dalam memajukan kualitasistem informasi.
Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Pearson, McCahon, dan Hightower(1995) menemukan bahwa dibutuhkan tiga sampai lima tahun bagi kualitas program untuk menghasilkan manfaat yang signifikan dalam ruang lingkup kepuasan pemakaiserta kualitas dari produk dan pelayanan. Sementara itu, sebuah penelitian yangdilakukan oleh Jones dalam Guimaraes, Staples, dan McKeen (2003) menemukancara penghapusan biaya kerusakan diantara pengeluaran-pengeluaran tertinggi dalam proyek pengembangan pembuatan perangkat lunak. Lagi pula ketidak cukupan dan kekurangan studi empiris mengenai kualitas perangkat lunak yang membuat sulit paramanajer proyek untuk menggunakan perangkat lunak yang ada secara efektif. Danstrategi-strategi di dalam manajemen dan kualitas kontrol.
2. Peneliti Sebelumnya.
Kualitas Sistem
Kualitas sistem ditinjau dari sudut pandang teknik, merupakan kualitas suatu produk ataupelayanan yang pada umumnya diukur berdasarkan kecocokanpenggunaannya, dimana mampu diaplikasikan sesuai apa yang dipikirkan pemakai Dilworth (1988), Sedangkan menurut catatan ANSI, kualitas adalah keseluruhan dari keistimewaan dan karakter suatu produk atau pelayanan, hal itu menunjang pada kemampuannya untuk memberikan kepuasan bagi para pemakai yang membutuhkan(ANSI/ASQC; 1978). Demikian pula, ukuran kepuasan pemakai (UIS) pada sistem komputer dicerminkan oleh kualitas sistem yang dimiliki (Guimaraes, Igbaria, danLu 1992; Yoon, Guimaraes, dan O’Neal, 1995). Kepuasan pemakai terhadap suatu sistem adalah bagaimana cara pemakai memandang sistem informasi secara nyatatapi tidak pada kualitas sistem secara teknik (Guimaraes, Staples, dan McKeen,2003). Dengan kata lain pemakai lebih memandang dari sudut ketersediaan layananinformasi, daripada menilai langsung kemampuan fungsi dari suatu sistem.
Partisipasi Pemakai
Pentingnya partisipasi pemakai dalam proses pengembangan sistem telah banyak ditulis dalam literatur (Ives dan Olson; Kappelman dan McLean dalam Mckeen, Guimaraes, dan Wetherbe, 1994) karena diperkirakan dapat meningkatkan.
Keahlian Pemakai
Expertise (keahlian) itu sendiri sering dikaitkan dengan knowledge(pengetahuan) dan skill(keterampilan). Karena orang baru akan dikatakan ahli biladidukung dengan pengetahuan dan keterampilan. Keahlian pemakai adalah tingkatpengalaman dan keterampilan yang diperoleh pemakai dalam hal penggunaankomputer dan pengembangannya (Igbaria, Guimaraes, dan Davis dalam Guimaraes,Staples, dan McKeen, 2003) . Tidak semua pemakai sama dalamhalkemampuannyaberpartisipasi dalam proses pengembangan sistem.
Komunikasi Pemakai-Pengembang
Hubungan antara pemakai dan pengembang selalu bersifat simbiotik (Chruchman dan Schainblatt dalam McKeen, Guimaraes, wetherbe, 1994). “Pemakai memiliki informasi dan pengetahuan tentang dinamika lingkungan, dan analis memiliki waktu untuk mengadakan analisis sistematis yang yang diperlukan untuk membuat keputusan-keputusan strategis yang kompleks” (Mintzberg dalam McKeen, Guimaraes, wetherbe, 1994). Komunikasi pemakai-pengembang menandai kualitas
dari komunikasi yang tetap antara perancang sistem dan partisipasi pemakai (Monge,Bukmand, Dillard, dan Eisenberg; Guinan dalam Guimaraes, Staples, dan McKeen, 2003). Komunikasi memegang peranan penting dalam memudahkan proses dari aplikasi pengembangan sistem. Menurut Robey dan Farrow dalam McKeen, Guimaraes, dan Wetherbe (1994) komunikasi yang efektif ini sangat menunjang partisipasi pemakai dengan menjadi sarana untuk mengidentifikasi konflik dan mencari penyelesaiannya.
Pengaruh Pemakai
Robey, Farrow, dan Franz dalam Guimaraes, Staples, dan McKeen (2003) mendefinisikan pengaruh pemakai sebagai tingkat dimana anggota suatu organisasi mempengaruhi keputusan-keputusan yang berkaitan dengan rancangan akhir suatu sistem informasi. Lebih jauh, mereka berargumentasi bahwa partisipasi sebagai tingkat sejauh mana anggota organisasi terlibat dalam aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan pengembang sistem. McKeen, Guimaraes, dan Wetherbe (1994) menegaskan, tanpa ada partisipasi maka tidak ada pengaruh. Pengaruh pemakai dengan tingkat yang tinggi menjadi pembuat keputusan yang efektif dalam proses pengembangan sistem melalui latihan-latihan dan tanggung jawabnya (Guimaraes,Staples, dan McKeen, 2003).
Konfik Pemakai
Definisi dari konflik pemakai menurut Putnam dan Wilson (1982); Hocker dan Wilmot (1985) menyatakan tiga kunci: konflik yang terjadi antara kelompok yang berinteraksi, dimana adanya divergensi kepentingan, pendapat, atau tujuan diantara kelompok tersebut, dan perbedaan tersebut menjadi tidak cocok. Kondisi seperti itu seringkali terjadi selama pengembangan sistem dalam setiap kasus konflik antara pemakai dan pengembang sistem diharapkan menghasilkan hasil yang negative selama proses pengembangan sistem. Terakhir Guimaraes, Staples, dan McKeen
(2003) menjelaskan bahwa beberapa konflik mungkin merusak komunikasi selama proses pengembangan, menurunkan keberanian pemakai untuk berpartisipasi, dan menuntun pada tidak berfungsinya perilaku.
3. Metode Penelitian
Populasi dan Prosedur Penentuan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan industri perbankan yang beroperasi diwilayah kota Banjarmasin. Daftar nama-nama industri perbankan diperoleh dari Statistik Bank Indonesia (2003) yang berjumlah 24 buah. Sampel yang dipakai dalam penelitian ini adalah pemakai akhir (end-user) sistem informasi, yaitu mereka yang terlibat secara langsung dan ikut berpartisipasi dalam proses pengembangan kualitas sistem pada perusahaan perbankan. Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik porpusive sampling dengan pertimbangan bahwa perusahaan perbankan adalah (1) jenis perusahaan yang memfokuskan pada penggunaan teknologi informasi yang selalu berkembang (Jarvenpaa dan Ives, 1991), (2) pemilihan populasi pada satu jenis perusahaan diharapkan akan mengurangi kemungkinan pengaruh struktur industri (industrial effect) terhadap data yang dihasilkan karena dapat menyebabkan data menjadi bias (Gujarati, 1995). Kuesioner penelitian ini terdiri dari pertanyaan yang bersifat terbuka (opened questionnaires) yang menyangkut demografi responden dan pertanyaan yang bersifat tertutup (closed questionnaires) berkaitan dengan variabel-variabel yang diteliti. Teknik penyebaran dan pengumpulan data dilakukan dengan cara mail survey dan mengantar langsung kuesioner (contact person) ke alamat responden, hal ini dimaksudkan agar diperoleh respon rate yang tinggi. Peneliti mengirimkan 7-8 eksemplar kuesioner, karena peneliti tidak mengetahui secara pasti berapa jumlah pemakai akhir (end-user) sistem informasi yang terlibat dalam proses pengembangankualitas sistem.
Operasionalisasi variabel
Kualitas Sistem
Kualitas diukur menggunakan 10 item yang diadaptasi dari Yoon, Guimaraes, dan O’Neal (1995); Guimaraes, Yoon, dan Clevenson, (2001) Skala adalah ukuran kepuasan pemakai terhadap kemampuan fungsi dari suatu sistem. Masing-masing item diukur dengan menggunakan 5 skala likert yang mengindikasikan tingkat kepuasan pemakai pada setiap item. Skala berkisar dari 1 (tidak ada sama sekali sampai dengan 5 (sangat besar)
Partisipasi Pemakai
Partisipasi pemakai yang dimaksud adalah perilaku, pernyataan dan aktivitas yang dilakukan pemakai akhir dalam proses pengembangan kualitas sistem. Ukuran partisipasi pemakai akhir (end-user) dalam proses pengembangan kualitas sistem diadopsi dari Doll dan Torkzadeh dan Santhanam; Guimaraes dan George yang digunakan pula oleh Guimaraes, Staples, dan McKeen (2003) terdiri dari 9 item dengan menggunakan 5 skala likert. Tiap item berkisar dari (1) tidak ada sama sekali, sampai dengan (5) sangat besar
Pelatihan Pemakai
Pelatihan Pemakai yang dimaksud adalah gambaran latar belakang pemakai dengan penggunaan umum teknologi komputer, proses dari pengembangan kualitas sistem. Ukuran ini dikembangkan oleh Nelson dan Cheney (1997) dan diadaptasi Santhanam, Guimaraes dan George (2000); Igbaria et al. (1995); Yoon et al. (1995). Responden diminta untuk melaporkan cakupan pelatihan yang mempengaruhi penggunaan sistem yang spesifik. Terdiri dari 5 item dengan 5 skala likert, dari tidak ada sama sekali (1) sampai dengan, sangat besar (5).
Pengalaman Pemakai
Keahlian pemakai yang dimaksud adalah tingkat pengalaman dan keterampilan yang diperoleh pemakai dalam hal penggunaan komputer dan pengembangannya. Ukuran ini dikutip dari Igbaria, Guimaraes, dan Davis yang diadopsi oleh Guimaraes, Staples, dan McKeen (2003). Terdiri dari 5 item dengan 5 skala likert. Tiap item berkisar dari (1) tidak ada sama sekali, sampai dengan (5) sangat besar.
Komunikasi Pemakai-Pengembang
Variabel ini berkaitan dengan penilaian kualitas komunikasi antara pemakai dan pengembang. Instrumen ini dikembangkan oleh McKeen, Guimaraes, dan Wetherbe (1994); Guimaraes, staples, dan McKeen (2003) terdiri dari 12 item dengan menggunakan 7 skala likert. Responden diminta untuk menilai dengan menyebutkan bagaimana proses komunikasi antara responden (pemakai) dengan pengembang sistem dengan cara menunjukkan seberapa jauh responden sangat tidak setuju (1) atau sangat setuju (7) atas pernyataan yang berkaitan dengan kemampuan pengembang sistem dalam hal komunikasi.
Pengaruh Pemakai
Pengaruh pemakai yang dimaksud adalah peranan anggota dalam organisasi yang berpengaruh terhadap keputusan yang berkaitan dengan desain akhir (final design) sistem informasi (Robey, Farrow, dan Franz (1989) Pengukuran variabel ini diadopsi dari Guimaraes, Staples, dan McKeen (2003) yang terdiri atas 3 item dengan rentang nilai yang digunakan adalah (1) sampai dengan (6). Nilai 1 menunjukkan spesifikasi tidak ada sama sekali dan nilai 7 menunjukkan spesifikasi sangat banyak.
Konflik Pemakai
Konflik pemakai yang dimaksud adalah konflik anggota yang pernah terjadi dalam organisasi yang mungkin merusak komunikasi dalam proses pengembangan kualitas sistem (Robey dan Farrow, 1982; Robey et al., 1989; 1993). Instrumen ini diadopsi dari Hartwick dan Barki (1994). Untuk menilai derajat konflik yang terdiri dari 3 item dengan menggunakan skala yang berkisar dari 1 (tidak ada sama sekali) sampai dengan 6 (sangat banyak).
Uji Kualitas Data
Pengujian kualitas data menggunakan uji reliabilitas dan uji validitas. Uji ini dilakukan untuk mengetahui konsistensi dan akurasi data yang dikumpulkan dari penggunaan instumen Reliabilitas pengukuran ditentukan dengan menghitung cronbach alpa yang dipertimbangkan dapat diandalkan jika cronbach alpa lebih tinggi dari 0,70 (Nunnally 1994). Sedangkan Sekaran (2000) mengatakan, pada umumnya reliabilitas yang kurang dari 0,6 dikatakan kurang reliabel, antara 0,60 sampai dengan 0,80 adalah cukup reliabel dan lebih dari 0,80 suatu instrument dikatakan baik. Sedangakan validitas data diuji dengan uji validitas konstruk (construct validity) dengan analisis faktor terhadap skor setiap butir dengan rotasi varimax (varimax rotation), selain itu validitas data juga diuji dengan uji korelasional (korelasi Spearman) yang mengkorelasikan skor setiap butir dengan skor totalnya. Pada uji reliabilitas, konsistensi internal koefisien cronbach alpha untuk semua variabel berada pada tingkat yang dapat diterima, karena berada lebih dari 0,7 (Nunnally, 1994). Selanjutnya pengujian validitas menggunakan uji validitas
konstruk (construct validity) dengan analisis faktor terhadap skor setiap butir dengan rotasi varimax (varimax rotation), dengan loading factors cukup memadai karena berada diatas 0,4 (Chia, 1995) dan untuk semua variabel, Ini berarti menunjukkan tingkat kesesuaian antara variabel dengan dan faktornya (Hair, 1998). Nilai MSA (Kaiser-Meyer-Olkin measure of sampling Adequacy) semua variabel berada datas 0,5 (Hair et al., 1988) yang menunjukkan data dapat dilakukan analisis faktor. Demikian juga uji validitas data dengan uji Pearson Correlation yang mengkorelasikan skor setiap butir dengan skor total, menunjukkan korelasi yang positif dan signifikan pada level antara 0,01 dan 0,05, (0,05 ??p ??0,00). berarti data dapat dikatakan vali dan selanjutnya digunakan untuk pengujian hipotesis
4. Hasil Pengujian
a. Hasil Pengujian Hipotesis 1 (Partisipasi Pemakai)
Hasil regresi secara parsial menunjukan bahwa partisipasi pemakai tidak berpengaruh
signifikan terhadap kualitas sistem p sebesar 0,622 (p > 0,05) namun koefisienregresi parsial positif dapat menunjukkan hubungan positif antara partisipasi pemakaidengan kualitas sistem. Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan temuan peneliti sebelumnya, Guimaraes, Staples, dan McKeen (2003). Tidak diterimanya hipotesis kemungkinan disebabkan “partisipasi” bagi pemakai akhir (end-user) sisteminformasi tidak penting pengaruhnya dalam proses pengembangan kualitas sistem,karena berpartisipasi sudah menjadi kewajiban mereka sehari-hari untuk saling mengembangkan pengetahuan akan sistem yang mereka pakai guna kepentingan pekerjaan dan perusahaan. Tapi mungkin juga partisipasi pemakai dalam penelitianini hanya bersifat pasif dan tidak bersifat aktif (Oppelland dan Kolf dalam McKeen,Guimaraes, dan Wetherbe 1994).
b. Hasil Pengujian Hipotesis 2 (Pelatihan Pemakai)
Hasil regresi parsial menunjukkan bahwa pelatihan pemakai mempunyai pengaruh
yang signifikan terhadap kualitas sistem dengan signifikansi p sebesar 0,005 (p 0,05). Walaupun koefisien regresi
parsial positif yang menunjukkan hubungan positif antara keahlian pemakai dengan
kualitas sistem, namun secara statistik hipotesis 3 kurang dapat dijustifikasi
pengaruhnya antara keahlian pemakai tinggi terhadap kualitas sistem. Penolakan
hasil penelitian ini, peneliti menduga keahlian pemakai cenderung mempunyai
kaitan yang erat dengan partisipasi pemakai, dimana bukti menunjukkan bahwa
partisipasi pemakai dan keahlian pemakai sama-sama mempunyai pengaruh yang
tidak penting (tidak signifikan) dalam proses pengembangan kualitas sistem. Hal ini
sejalan dengan teori bahwa pemakai dengan keahlian yang rendah tidak akan mampu
berpartisipasi lebih efisien dan lebih efektif dalam proses pengembangan berlangsung
dan dengan partisipasi yang rendah tersebut mereka tidak akan mampu menghasilkan
bentuk yang lebih tepat/akurat tentang penggunaan hasil suatu sistem dan ini akan
berdampak buruk pada pekerjaan mereka, dibanding dengan pemakai yang
mempunyai keahlian yang tinggi.
d. Hasil Pengujian Hipotesis 4 (Komunikasi Pemakai-Pengembang)
Hasil regresi parsial antara komunikasi pemakai-pengembang terhadap kualitas
sistem menunjukkan pengaruh yang signifikan p sebesar 0,000 (p 0,05) dengan koefisien regresi parsial negatif (-0,176). Dengan
demikian hipotesis yang menyatakan bahwa “pengaruh pemakai dalam proses
pengembangan kualitas sistem berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas
sistem” tidak diterima. Hasil temuan ini menunjukkan bukti bahwa adanya hubungan
yang tidak kuat antara pengaruh pemakai dengan kualitas sistem. Temuan ini sejalan
pula dengan McKeen, Guimaraes, dan Wetherbe (1994) Doll dan Torkzadeh (1989).
Secara praktis kesimpulan ini dapat menjelaskan kenyataan bahwa besarnya
pengaruh pemakai sulit untuk dinilai secara akurat, mungkin ini terjadi hanya karena
ketidakseimbangan situasi, dimensi perilaku yang cepat berubah, dan aspek psikologi
yang tidak menentu.
f. Hasil Pengujian Hipotesis 6 (Konflik Pemakai)
Pengaruh secara parsial pelatihan pemakai terhadap kualitas sistem tidak signifikan
secara statistik p sebesar 0,053 (p > 0,05) dengan koefisien regresi negatif (-0,355).
Berarti hipotesis yang menyatakan bahwa “konflik pemakai dalam proses
pengembangan kualitas sistem berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas
SNA VIII Solo, 15 – 16 September 2005
sistem” tidak diterima. Temuan ini sejalan dengan penelitian Guimaraes, Staples, dan
McKeen (2003). Bukti ini menunjukkan bahwa konflik mungkin dapat merusak
komunikasi dalam proses pengembangan, menurunkan keberanian pemakai untuk
berpartisipasi, dan menuntun pada tidak berfungsinya perilaku.
Evianti Louw said:
Oct 07, 09 at 8:28 pmNama : Evianti Louw
Nim : 06 402 663
Review Artikel :
PENGARUH INDEPENDENSI, KEAHLIAN PROFESIONAL, DAN
PENGALAMAN KERJA PENGAWAS INTERN TERHADAP EFEKTIVITAS
PENERAPAN STRUKTUR PENGENDALIAN INTERN PADA BANK
PERKREDITAN RAKYAT DI KABUPATEN BADUNG
I. TUJUAN
Memberikan masukan dan pertimbangan bagi BPR untuk lebih meningkatkan independensi, keahlian profesional, dan pengalaman kerja pengawas intern agar efektivitas penerapan struktur pengendalian intern pada BPR semakin meningkat pula
II. PENELITIAN SEBELUMNYA
1. Lenny Krisnawati (2005) meneliti pengaruh independensi dan keahlian profesional internal auditor terhadap efektivitas penerapan struktur pengendalian intern pada hotel berbintang di Kabupaten Badung. Dari penelitian tersebut didapat bahwa independensi dan keahlian profesional internal auditor, baik secara simultan maupun parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap efektivitas penerapan struktur pengendalian intern pada hotel berbintang di Kabupaten Badung.
2. Uji Panca Mahendrawati (2005) meneliti pengaruh independensi dan keahlian profesional internal auditor terhadap efektivitas penerapan struktur pengendalian intern pada hotel berbintang di Kabupaten Badung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa independensi dan keahlian profesional internal auditor secara simultan dan parsial berpengaruh positif terhadap efektivitas penerapan struktur pengendalian intern pada hotel berbintang di Kabupaten Badung dan Kota Denpasar.
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya terletak pada lokasi penelitian, yaitu lokasi yang dipilih adalah Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di Kabupaten Badung. Perbedaan yang lain terletak pada
adanya penambahan satu variabel bebas, yaitu pengalaman kerja pengawas intern.
III. METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan pada BPR di Kabupaten Badung karena memiliki potensi yang sangat besar dalam menyediakan kredit bagi masyarakat. Hal ini terlihat dari banyaknya Bank Perkreditan Rakyat yang ada di Kabupaten Badung yang merupakan jumlah terbesar di Propinsi Bali. Teknik penentuan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Kriteria yang dijadikan dasar pemilihan anggota sampel pada penelitian ini adalah Bank Perkreditan Rakyat di Kabupaten Badung yang berstatus kantor pusat, memiliki staf pengawas intern, dan rata – rata memiliki tiga orang kepala bagian. Berdasarkan kriteria tersebut, dari 60 populasi (Bank Indonesia, 2006) yang memenuhi kriteria sampel adalah sebanyak 42 Bank Perkreditan Rakyat di Kabupaten Badung. Objek penelitian ini adalah independensi, keahlian profesional dan pengalaman kerja pengawas intern terhadap efektivitas penerapan struktur pengendalian intern pada Bank Perkreditan Rakyat di Kabupaten Badung. Adapun variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah struktur pengendalian intern sebagai variabel terikat dan independensi, keahlian profesional, serta pengalaman kerja pengawas intern sebagai variabel bebas. Responden yang dipilih dalam penelitian ini adalah orang-orang yang mengetahui tugas, wewenang, dan fungsi pengawas intern dalam menilai efektivitas penerapan struktur pengendalian intern. Orang yang dimaksud adalah kepala bagian-kepala bagian yang ada pada Bank Perkreditan Rakyat di Kabupaten Badung. Sebelum penelitian dilakukan, instrumen yang digunakan diuji terlebih dahulu validitas dan reabilitasnya. Selanjutnya, dilakukan uji kelayakan dengan menggunakan metode asumsi klasik, yaitu uji multikolinearitas, heteroskedastisitas, dan normalitas. Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan analisis regresi berganda. Pengujian hipotesis dilakukan dengan uji statistik F untuk menguji apakah variabel bebas yang digunakan dalam penelitian ini secara simultan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel terikat, dengan taraf keyakinan 95% dan ? =5%. Uji statistik t juga digunakan untuk menguji apakah variabel bebas yang digunakan dalam penelitian ini secara parsial memiliki pengaruh signifikan terhadap
variabel terikat (Y), dengan level of significant = 5%.
IV. HASIL
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa independensi, keahlian profesional, dan pengalaman kerja pengawas intern berpengaruh positif terhadap efektivitas penerapan struktur pengendalian intern. Nilai R-square sebesar 0,906 menunjukkan bahwa variance variabel bebas berpengaruh terhadap variance variabel terikat sebesar 90,6 persen, sedangkan sisanya sebesar 9,4 persen dipengaruhi oleh faktor lain. Variabel keahlian profesional pengawas intern memiliki nilai standardized coefficients beta terbesar (0,494) yang berarti bahwa variabel keahlian profesional pengawas intern paling dominan mempengaruhi efektivitas penerapan struktur pengendalian intern pada Bank Perkreditan Rakyat di Kabupaten Badung. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan hasil sebagai berikut:
1. Uji statistik F (Uji regresi secara simultan)
Independensi, keahlian profesional, dan pengalaman kerja pengawas intern secara simultan memiliki pengaruh signifikan terhadap efektivitas penerapan struktur pengendalian intern.
2. Uji statistik t (Uji regresi secara parsial)
a) Independensi pengawas intern secara parsial memiliki pengaruh yang signifikan terhadap efektivitas penerapan struktur pengendalian intern.
b) Keahlian profesional pengawas intern secara parsial memiliki pengaruh signifikan terhadap efektivitas struktur pengendalian intern.
c) Pengalaman kerja pengawas intern secara parsial memiliki pengaruh yang signifikan terhadap efektivitas penerapan struktur pengendalian intern.
V. SUMBER
http://ejournal.unud.ac.id/abstrak/ok_dwi%20ratnadi.pdf
Yanti Cia Sada said:
Oct 07, 09 at 9:29 pmREVIEW ARTIKEL
Analisis Agency Costs, Struktur Kepemilikan Dan Mekanisme
Corporate Governance
1. Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh struktur kepemilikan dengan biaya keagenan yang di ukur dengan asset Utilization dan operating expense Kontribusi penelitian ini adalah menambakan variable dividen dan risiko sebagai variable – variable control yang di duga dapat lebih menjeleskan hubungan antara struktur kepemilikan dengen biaya keagenan yang tidak dipertimbangkan dalam penelitian Ang et al. (1999) maupun Sing et al (2003).
2. Penelitian Sebelumnya
? Jensen dan Meckling (1976)
Menyatakan kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional adalah dua mekanisme corporate governance utama yang membantu mengendalikan masalah keagenan.
? Fama (1980)
Menyatakan bahwa dewan dereksi merupakan mekanisme pengendalian internal utama yang memonitor manajer.
? Jensen (1993)
Menyatakan beberapa penilitian telah menguji apakah keputusan-keputusan keuangan seperti deviden, leverage dan kepemilikan manajerial mempengaruhi masalah keagenan.
? Rozeff (1982)
Menyatakan bahwa perusaahan yang membayar deviden tinggi bertujuan untuk mengurangi masalah keagenan.
? Demsetz dan Lehn (1985)
Menyimpulkan bahwa konsentrasi kepemilikan dugunakan perusahaan untuk menghilangkan masalah keagenan.
? Crutchley dan Hansen (1989) dan Bathala et al. (1994)
Menyimpulkan bahwa level kepemilikan manjeral yang lebih tinggi dapat digunakan untuk mengurangi masalah keagenan.
? Ang et al. (1999)
Memberikan bukti terhadap hubungan antara struktur kepemilikan dengan biaya keagenan yang diukur dari pemanfaatan aktiva dan beban operasi.
? Kale dan Noe (1990)
Deviden merupakan sinyal stabilitas aliran kas di masa mendatang.
? Pfefer (1983) dan Pearce dan Zahra (1992)
Menyatakan bahwa peningkatan ukuran dan difersitas dari dewan direksi akan memberikan manfaat bagi perusahaan karena terciptanya network dengan pihak luar perusahaan dan menjamin ketersediaan sumber daya.
? Yermack (1996) dan Eisenbberg et al. (1998)
Menyatakan bahwa jumlah dewan direksi yang kecil meningkatkan kinerja perusahaan.
3. Metode Penelitian
Pemilihan sampel dan pengumpulan data
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan-perusahaan yang terdaftar di bursa efek Jakarta. Sampel diambil dengan menggunakan metode Purposive Sampling dengan criteria : Perusahaan yang terdaftar di BEJ dan mempublikasikan laporan keuangan tahunan secara konsisten dari tahun 1999 sampai 2001. Tahun 1999 dipilih untuk menghindari pengaruh krisis moneter di Indonesia (1997), perusahaan tersebut memiliki data yang lengkap terkait dengan variable yang digunakan dalam penelitian ini.
Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode penggabungan atau pooling data. Dalam penelitian ini diperoleh 33 perusahaan yang memenuhi criteria sebagai sampel. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang meliputi, penjualan, total aktiva (total asset), utang jangka panjang (Long Term Debt), perputaran aktiva (Asset Turnover), beban operasi (Operating expensive). Data dip[eroleh dari laporan keuangan tahunan perusahaan yang dipyblikasikan di BEJ dan Indinesian Capital Market Directory.
4. Hasil Penelitian
Kepemilikan manajerial belum dapat berfungsi sepenuhnya sebagai mekanisme untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan aktiva perusahaan dan belum dapat menekan diskresi manajerial. Kepemilikan institusional belum efektif sebagai alat untuk memonitor manajemen dalam meingkatkan nilai perusahaan melalui peningkatan asset turnover dan pengurangan beban operasi. Ukuran dewan direksi berhubungan positif dengan asset turnover dan berhubungan negative dengan operating expense. Hasil ini konsisten dengan penelitian Pfefer (1983) dan Pearce dan Zahra (1992), namun berbeda dengan hasil yang diperoleh Yermack (1996), Eienberg (1998), Ang. Et al. (1999) dan Sing et al. (2003). Hasil penelitian ini memberikan dukungan teori bahwa ukuran dewan direksi dapat dijadikan sebagai variable;l yang mempengaruhi biaya keagenan.
Meskipun secara statistic tidak signifikan, dapat disimpulkan bahwa pada saat level kepemilikan manajeral tinggi agency sosts yang diukur dengan hasil turnover lebih tinggi dibandingkan pada saat kepemilikan manajeral rendah. Hasil ini konsisten dengan temuan Ang et al. (1999).
5. Sumber
Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol 8, No. 2, Mei 2005 halaman 175-190
ABRAHAM HENRY PASOLANG said:
Oct 08, 09 at 1:31 amPENGARUH KECERDASAN EMOSIONAL TERHADAP
KINERJA AUDITOR PADA KANTOR AKUNTAN PUBLIK DI
KOTA SEMARANG
Article review
A Tujuan Dan Kegunaan Penelitian
1.4.1 Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah
1.
Untuk mengetahui secara empiris pengaruh kesadaran diri, pengaturan
diri, motivasi, empatidan keterampilan sosial secara simultan terhadap
kinerja auditor.
2.
Untuk mengetahui secara empiris pengaruh kesadaran diri, pengaturan
diri, motivasi, empatidan keterampilan sosial secara parsial terhadap
kinerja auditor.
B Penelitian sebelumnya
Menurut Goleman (2001:512), kecerdasan emosional adalah kemampuan
untuk mengenal perasaan diri sendiri dan orang lain untuk memotivasi diri sendiri
dan mengelola emosi dengan baik dalam diri kita dan hubungan kita. Kemampuan
ini saling melengkapi dan berbeda dengan kemampuan akademik murni, yaitu
kemampuan kogniktif murni yang diukur dengan Intelectual Quetient (IQ).
Sedangkan menurut Cooper dan Sawaf (1998), kecerdasan emosional adalah
kemampuan mengindra, memahami dan dengan efektif menerapkan kekuatan dan
ketajaman emosi sebagai sumber energi, informasi dan pengaruh. Salovely dan
Mayer mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai kemampuan memantau dan
mengendalikan perasaan sendiri dan orang lain, serta menggunakan perasaan itu
untuk memandu pikiran dan tindakan. Temuan beberapa peneliti, seperti David
Wechsler dalam Suryanti dan Ika (2003:10
, mendefinisikan kecerdasan
sebagai keseluruhan kemampuan seseorang untuk bertindak bertujuan, untuk
________________________________________
berfikir rasional, dan untuk berhubungan dengan lingkungannya yang efektif.
Aspek-aspek yang terkait dalam afeksi dan personal dan faktor sosial. Temuan
Wechsler ini mendefinisikan, selain aspek kognisi, aspek kognisi juga
berpengaruh dalam mencapai keberhasilan hidup. Kematangan dan kedewasaan
menunjukkan kecerdasan dalam hal emosi. Mayer dalam Goleman
menyimpulkan bahwa kecerdasan emosi berkembang sejalan dengan usia dan
pengalaman dari kanak-kanak hingga dewasa, lebih penting lagi bahwa
kecerdasan emosional dapat dipelajari.
Selanjutnya menurut Howes dan Herald dalam Surya dan Hananto,
(2004:34) mengatakan pada intinya, kecerdasan emosional merupakan komponen
yang membuat seseorang menjadi pintar menggunakan emosi. Lebih lanjut
dikatakan bahwa emosi manusia berada diwilayah dari perasaan lubuk hati, naluri
yang tersembunyi, dan sensasi emosi yang apabila diakui dan dihormati,
kecerdasan emosional menyediakan pemahaman yang lebih mendalam dan lebih
utuh tentang diri sendiri dan orang lain.
Komponen kecerdasan emosional :
Istilah “Kecerdsan Emosional” pertama kali dilontarkan pada tahun 1990
oleh psikolog Peter Salovey dari Harvard University dan Jhon Meyer dari
University of New Hampshire Amerika untuk menerangkan kualitas-kualitas
emosional yang tampaknya penting bagi keberhasilan (Suryanti dan Ika
2004:262). Kualitas-kualitas itu antara lain : empati (kepedulian), mengungkapkan
dan memahami perasaan, mengendalikan amarah, kemandirian, kemampuan
________________________________________
menyesuaikan diri, disukai, kemampuan memecahkan masalah antar pribadi
ketekunan kesetiakawanan, keramahan, dan sikap hormat.
Steiner dalam Trisnawati dan Suryaningsum menyatakan bahwa kecerdasan
emosional mencakup lima komponen, yaitu mengetahui perasaan sendiri,
memiliki empati, belajar mengatur emosi-emosi sendiri, memperbaiki kerusakan
sosial, dan interaktivitas emosional. Cooper dan Sawaf dalam Trisnawati dan
Suryaningsum (2003:1075) merumuskan kecerdasan emosional sebagai sebuah
titik awal model empat batu penjuru, yang terdiri dari kesadaran emosi,
kebugaran emosi, kedalaman emosi dan alkimia emosi.
Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa kecerdasan
emosional adalah seperangkat kemampuan untuk mengenal, memahami perasaan
diri sendiri dan orang lain serta mampu menggunakan perasaan itu untuk
memandu pikiran dalam bertindak.
Goleman secara garis besar membagi dua kecerdasan emosional yaitu
kompetensi personal yang meliputi kesadaran diri, pengaturan diri, motivasi diri
dan kompetensi sosial yang terdiri dari empati dan keterampilan sosial. Dalam
penelitian ini komponen kecerdasan emosional yang digunakan adalah komponen
kecerdasan emosional menurut Goleman.
C Metode penelitian dengan menggunakan metode analisis data
Analisis Regresi
Untuk dapat mengetahui pengaruh variabel-variabel independent terhadap
variabel dependen maka digunakanlah analisis regresi berganda dengan bantuan
perangkat program SPSS yang secara rinci disajikan pada lampiran. Adapun
variabel independen yang dimaksud adalah kesadaran diri (X1), pengaturan diri
(X2), motivasi (X3), empati (X4), keterampilan sosial (X5) dan kinerja auditor
(Y) sebagai variabel dependent. Berikut adalah tabel hasil analisis regresi :
Tabel 4.9 Hasil Analisis Regresi
Variabel
Koeffisien
T hitung
Siknifikasi
r2 parsial
Independent
Regresi
Kesadaran diri
0,345
2,108
0,039
6,3
Pengaturan diri
0,364
2,074
0,042
6,1
Motivasi
0,355
2,216
0,030
6,9
Empati
0,346
2,026
0,047
5,8
Keterampilan sosial
0,347
2,158
0,035
6,6
Costant = 18,831
F hitung = 45,452
R squared = 0,775
________________________________________
49
Sumber : data diolah
Dari tabel diatas didapat bentuk persamaan regresi berganda sebagai
berikut :
A. Y = 18,831 + 0,345X1 + 0,364X2 + 0,355X3 + 0,346X4
+ 0,347X5 + e
Berikut penjelasan berdasarkan persamaan regresi berganda yang terbentuk :
1. Baik konstanta maupun koeffisien variabel-variabel independen memiliki
nilai positif. Hal ini menandakan bahwa persamaan regresi berganda
tersebut memiliki hubungan yang searah. Yang berarti kinerja auditor akan
semakin meningkat seiring dengan meningkatnya kesadaran diri,
pengaturan diri, motivasi, empati dan keterampilan sosial auditor.
2. Konstanta sebesar 18,831 berarti bahwa seorang auditor tetap dapat
meningkatkan kinerjanya sebesar nilai konstantanya meskipun variabel
independennya bernilai nol.
D. Hasil dan Pembahasan
Pembahasan
Dari penelitian yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa kecerdasan
emosional mempunyai pengaruh yang siknifikan terhadap kinerja auditor.
Pengaruh yang ditimbulkan adalah positif, yaitu semakin tinggi tingkat
kecerdasan emosional seorang auditor, akan semakin tinggi pula tingkat kinerja
auditor tersebut.
Untuk variabel kesadaran diri (X1) memiliki nilai koefisien regresi sebesar
0,345 yang berarti bahwa jika kesadaran diri auditor bertambah 1 satuan, maka
akan meningkatkan kinerja auditor sebesar 0,345 satuan. Berdasarkan hasil
penelitian variabel kesadaran diri memiliki nilai koefisien determinasi parsial (r2)
________________________________________
57
sebesar 6,3%, artinya variabel kesadaran diri memberikan kontribusi sebesar 6,3%
dalam menjelaskan variabel kinerja auditor. Berarti kesadaran diri berpengaruh
terhadap kinerja auditor. Hasil ini sejalan dengan teori Goleman, yang
menyatakan bahwa seseorang yang mempunyai keasadaran diri yang baik akan
mengetahui kemampuan, kekuatan dan batas-batas diri sendiri sehingga
menimbulkan perasaan keyakinan dalam diri untuk berbuat tegas dan membuat
keputusan yang baik kendati dalam keadaan tertekan.
Variabel pengaturan diri (X2) mempunyai pengaruh siknifikan terhadap
kinerja auditor, dengan nilai koeffisien regresi sebesar 0,363, yang berarti bahwa
seriap kenaikan 1 satuan variabel pengaturan diri maka akan meningkatkan
kinerja sebesar 0.363 satuan. Berdasarkan hasil penelitian variabel pengaturan diri
memiliki nilai koefisien determinasi parsial (r2) sebesar 6,1%, artinya variabel
pengaturan diri memberikan kontribusi sebesar 6,1% dalam menjelaskan variabel
kinerja auditor. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori Goleman. Menurut
Goleman seseorang dengan pengaturan diri yang baik akan mudah dalam
menerima gagasan atau ide-ide, sehingga berdampak pada pemikiran yang positif
dan jernih.
Christian R. Mamesah said:
Oct 08, 09 at 2:06 pmChristian R. Mamesah
NIM : 06 402 655
Artikel Review
PENGARUH PENGALAMAN TERHADAP PENINGKATAN KEAHLIAN
AUDITOR DALAM BIDANG AUDITING
A. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah secara parsial
dan bersama-sama pengalaman yang diperoleh auditor dari lamanya bekerja, dari tugas -tugas pemeriksaan, dan dari banyaknya jenis perusahaan yang telah diaudit mempunyai pengaruh positif terhadap peningkatan keahlian auditor dalam bidang auditing.
B. Penelitian Sebelumnya
definisi audit yang berasal dari ASOBAC (A Statement basic of auditing concepts) dalam karangan Abdul Halim, (2001,hal 1) yang mendefinisikan auditing sebagai : “Suatu proses sitematika untuk menghimpun dan mengevaluasi bukti-bukit audit secara obyektif mengenai asersi-asersi tentang berbagai tindakan dan kejadian ekonomi untuk menentukan tingkat kesesuaian dengan kriteria yang telah ditetapkan dan menyampaikan hasilnya kepada pihak-pihak yang berkepentingan” Selain definisi diatas, American Accounting Association Commite on basic Auditing Concept dalam Bambang hartati, (1990, hal 23) mengemukakan definisi auditing sebagai berikut :
“Auditing adalah suatu proses yang tersistematika untuk mendapatkan dan menilai bukti-bukti secara obyektif yang berkaitan dengan pernyataan-pernyataan tentang tindakan-tindakan dan kejadian-kejadian ekonomi untuk memperoleh tingkat kesesuaian antara pernyatan-pernyatan tersebut dengan kriteria yang telah dietapkan dan menyampaikan hasilnya kepada pihak
yang berkepentingan” Sedangkan menurut Miller dan Bailey, (2001, hal 3) sebagai berikut :
“An audit metdhodical review and objective examination of an item,
including the verification of specific information as determined by the auditor or as established by general practice. Generally, the purpose of an audit is to express an opinion on or reach a conclusion about what was audited” 10 Menurut Alvin A, Arens dan James K. Loebbeche dalam Abdul Halim (2001, hal 1) adalah sebagai berikut:
“Auditing adalah proses yang ditempuh oleh seseorang yang kompeten dan independen agar dapat menghimpun dan mengevaluasi bukti-bukti mengenai informasi yang terukur dalam suatu entitas (satuan) usaha untuk
mempertimbangkan dan melaporkan tingkat kesesuaian dengan kriteria yang telah ditetapkan”
C. metode penelitian
1. Sujek Peneilitian
Subyek dalam penelitian ini adalah semua auditor yang bekerja pada Kantor Akuntan Publik (KAP) di Propinsi Jawa Barat sebanyak dua belas Kantor Akuntan Publik. Kriteria responden adalah para auditor yang bekerja sebagai tenaga pemeriksa
2. Teknik Pengambilan Sampel
Teknik pengambilan sampel dilakukan secara acak dengan metode
probability sampling atau sering disebut juga dengan random sampling, yaitu pengambilan sampel penelitian dimana setiap elemen penelitian mempunyai probabilitas (kemungkinan) yang sama untuk dipilih. Sampling adalah suatu cara atau teknik yang dipergunakan untuk menentukan sampel penelitian (Supardi,
2005).
3. Teknik Pengumpulan data
Teknik Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan metode survei, yaitu suatu cara penyelidikan yang diadakan untuk memperoleh fakta atau gejala yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara faktual. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner yang dikirimkan secara langsung ke Kantor akuntan Publik (KAP) tempat responden bekerja. Pengumpulan data dimulai dari tanggal 5 agustus 2005 sampai dengan 30 Agustus 2005. Jumlah kuesioner yang disediakan peneliti sebanyak 100 eksemplar untuk dua belas Kantor Akuntan 26
Publik. Dari jumlah kuesioner yang dikirimkan tersebut kuesioner yang terkumpul kembali berjumlah 35 eksemplar atau sekitar 35% dan selanjutnya dijadikan sebagai sumber data penelitian. Berkaitan dengan variabel variabel yang tercakup
ke dalam pengalaman, pada bagian ini terdiri dari tiga butir pertanyaan yang masing-masing pertanyaan mewakili masing-masing variabel independen, yaitu lama responden bekerja menjadi auditor, banyaknya tugas pemeriksaan yang
dilakukan, dan banyaknya jenis perusahaan yang telah diaudit responden. Bagian kedua dari kuesioner berisi lima pertanyaan yang berhubungan dengan keahlian auditor yang diadopsi dan dikembangkan dari Pusdiklat BPKP. Responden diminta untuk mengukur keahliannya dalam skala likert dengan skor 1 sampai dengan 7. Bagian ketiga dari kuesioner berisi tentang data umum dan identitas responden.
4 Pengukuran Variabel
Atas dasar tujuan penelitian dan hipotesis penelitian yang akan diuji, maka variabel yang akan digunakan dalam penelitian ini, yaitu variabel independen dan variabel dependen. Variabel independen meliputi: pengalaman yang diperoleh dari lamanya bekerja dalam satuan bulan (X1), pengalaman yang diperoleh auditor dari
banyaknya tugas-tugas pemeriksaan (X2) yang diukur dengan jumlah tugas pemeriksaan yang dilakukan responden, dan pengalaman yang diperoleh dari banyaknya jenis perusahaan yang telah audit responden (X3) yang diukur dengan jumlah jenis perusahaan yang telah diaudit. Sedangkan variabel dependen (Y)
adalah keahlian auditor independen dalam bidang auditing. Pengukuran keahlian auditor independen dalam bidang auditing menggunakan instrumen yang 27 dikembangkan dari pusdiklat BPKP (Praptomo, 2002). Instrumen ini terdiri dari lima item yang melihat keahlian yang diperlukan auditor dalam tugasnya, keahlian
ini meliputi keahlian mengenai audit yang mencakup: merencanakan program pemeriksaan, menyusun program kerja pemeriksaan, melaksanakan program kerja pemeriksaan, menyusun kertas kerja pemeriksaan, dan menyusun laporan hasil
pemeriksaan.
Analisi Data
1. Uji Kualitas Data
Penelitian yang mengukur variabel dengan menggunakan instrument dalam kuesioner harus diuji kualitas datanya atau syarat yang penting yang berlaku dalam kuesioner seperti: keharusan suatu kuesioner untuk valid dan reliable. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah instrumen tersebut valid
atau reliable untuk variabel yang akan diukur, sehingga penelitian ini bisa mendukung hipotesis. Uji validitas dimaksudkan untuk mengukur kualitas kuesioner yang digunakan sebagai instrument penelitian, sehingga dapat dikatakan bahwa instrument tersebut valid. Instrumen dikatakan valid, jika instrument tersebut mampu mengukur apa yang diinginkan dan mengungkapkan data yang diteliti secara tepat. Sedangkan uji reliabilitas adalah suatu pengujian untuk mengukur sejauhmana hasil suatu pengukuran tetap konsisten bila dilakukan pengukuran
lebih dari satu terhadap gejala yang diukur dengan alat ukur yang sama. 28
a. Uji Validitas
Validitas berarti dapat diterima dan tidak diragukan (sah). Istilah ini
mengandung pengertian bahwa yang dinyatakan valid berarti telah sesuai dengan kebenaran yang diharapkan, sehingga dapat diterima dalam kinerja tertentu. Analisa pengujian validitas pada penelitian ini dilakukan dengan mempersiapkan tabulasi jawaban-jawaban responden yang berasal dari kuesioner.
Pengujian validitas dilakukan dengan mengkorelasikan setiap item-item pertanyaan dengan total nilai setiap variabel. Korelasi setiap item pertanyaan dengan nilai total setiap variabel dilakukan dengan teknik korelasi yaitu pearson’s product moment untuk mengetahui apakah variabel yang diuji valid atau tidak, hasil korelasi dibandingkan dengan angka kritir tabel korelasi
untuk degree of freedom (df) = n – 2, dan taraf signifikansi 5% (Nurgiyantoro, Gunawan, dan Marzuki,2000). Dasar pengambilan keputusan diambil, jika
nilai hasil uji validitas lebih besar dari angka kritis tabel korelasi, maka item pertanyaan tersebut dikatakan valid. Untuk menentrukan tingkat validitas,
peneliti menggunakan bantuan program Statistical Product and Service Solutions (SPPS) Versi 11,0.
b. Uji Reabilitas
Suatu kuesioner dikatakan reliabel (andal) jika, jawaban seseorang terhadap pertanyaan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu. Pengukuran reliabilitas dalam penelitian ini menggunakan metode one shot atau diukur sekali saja. Pengukuran yang dimaksud adalah pengukuran yang hanya sekali
29 dan kemudian hasilnya dibandingkan dengan hasil pertanyaan lain. Untuk pengukuran reliabilitas, SPPS memberikan fasilitas untuk mengukur reliabilitas dengan uji statistik Cronbach Alpha. Suatu variabel dikatakan reliable jika memberikan nilai Cronbach Alpha > 0,60 (Nunnally,1967).
1. Pengujian hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini diuji dengan menggunakan metode regresi linear berganda, dengan alasan penggunaan variabel yang lebih dari satu dalam penelitian ini. Analisis regresi berganda ini diolah dengan menggunakan program SPSS for windows versi 1,1. Analisis regresi linear berganda yang dilakukandalam penelitian ini, dilakukan dengan memasukkan tiga buah variabel
independen yang terdiri atas pengalaman yang diperoleh dari laman pengalaman yang diperoleh auditor dari banyaknya tugas pemeriksaan yang dilakukan dan pengalaman auditor yang diperoleh dari banyaknya jenis perusahaan yang telah diaudit, serta satu variabel dependen yaitu keahlian auditor dalam bidang auditing. Secara umum formulasi dari regresi berganda dapat ditulis sebagai berikut:
Y = a +b1X1 + b2X2 + b3X3
Keterangan:
Y = Keahlian
a = Nilai intercept/constant
b1b2b3 = Koefisien 30
X1 = Pengalaman auditor dari lamanya bekerja
X2 = Pengalaman auditor dari banyaknya tugas pemeriksaan
X3 = Pengalaman auditor dari banyak jenis perusahaan yang diaudit
Untuk Pengujian hipotesis dilakukan baik secara parsial (uji t) maupun secara serentak (uji F). Uji parsial dilakukan dengan pengujian terhadap probabilitas konstanta dari tiap variabel independen. Dasar pengambilan keputusan diambil jika nilai probabilitas t dari tiap variabel independent Sig t)
lebih kecil 0,05. Uji secara serentak (Uji F) juga dilakukan sebagaimana untuk uji parsial. Pengujian dilakukan dengan menganalisis nilai probabilitas F (Sig F) dengan menggunakan signifikansi alpha sebesar 5%.
D. hasil
Dari hasil pengujian hipotesis dengan menggunakan uji regresi berganda dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Pengujian hipotesis 1 menunjukkan bahwa pengalaman dari lamanya bekerja sebagai auditor mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap keahlian yaitu tercermin dari nilai koefisien sebesar 0,180 dengan probabilitas 0,000. Karena probabilitas < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis 1 gagal ditolak, ini berarti pengalaman yang diperoleh auditor dari lamanya bekerja
sebagai auditor berpengaruh positif terhadap peningkatan keahlian auditor dalam bidang auditing
2. Pengujian hipotesis 2 menunjukkan bahwa pengalaman yang diperoleh dari banyaknya tugas pemeriksaan yang dilakukan berpengaruh positif dan signifikan terhadap keahlian yaitu tercermin dari nilai koefisien sebesar 0,135 dengan probabilitas 0,026. Karena probabilitas < 0,05 maka dapat disimpulkan
bahwa hipotesis 2 gagal ditolak, ini berarti pengalaman yang diperoleh dari
banyaknya tugas pemeriksaan yang dilakukan berpengaruh positif terhadap
peningkatan keahlian auditor dalam bidang auditing
3. Pengujian hipotesis 3 menunjukkan bahwa pengalaman dari banyaknya jenis perusahaan yang telah diaudit berpengaruh positif dan signifikan terhadap keahlian yaitu tercermin dari nilai koefisien sebesar 0,224 dengan probabilitas 550,022. Karena probabilitas < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis 3
gagal ditolak, ini berarti pengalaman yang diperoleh dari banyaknya jenis perusahaan yang diaudit berpengaruh positif terhadap peningkatan keahlian auditor dalam bidang auditing
4. Hasil pengujian secara serentak (uji F) juga menerima hipotesis ke 4, sehingga dapat disimpulkan bahwa secara bersama-sama pengalaman yang diperoleh auditor dari lamanya bekerja sebagai auditor, Pengalaman yang diperoleh dari
banyaknya tugas pemeriksaan yang dilakukan, dan pengalaman yang diperoleh auditor dari banyaknya jenis perusahaan yang telah diaudit mempunyai pengaruh positif terhadap keahlian auditor dalam bidang auditing.
E.SUMBER
http://rac.uii.ac.id/server/document/Public/2008052302331901312288.pdf
Elvira Makuba said:
Nov 06, 09 at 5:16 pmNAMA : ELVIRA H MAKUBA
NIM : 04 504 178
ARTICLE REVIEW
PENGARUH FREKUENSI AUDIT ATAS LAPORAN KEUANGAN HISTRORIS TERHADAP KEANDALAN STRUKTUR PENGENDALIAN INTEREN PADA PERUSAHAAN DI KOTA DENPASAR
A. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan menjawab apakah frekuensi audit terhadap laporan keuangan historis berpengaruh terhadap keandalan struktur pengendalian interen pada perusahaan di kota Denpasar.
B. Penelitian sebelumnya
Di dalam artikel tidak dicantumkan mengenai penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya
C. Metode penelitian
1. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada 50 perusahaan yang berada di kota Denpasar yang mana laporan keuangannya sudah pernah diaudit oleh KAP yang ada di kota Denpasar selama 6 tahun terakhir.
2. Objek Penelitian
Peneliti memilih 50 perusahaan yang terletak di kotak Denpasar dan pernah diaudit oleh 8 KAP.
3. Identifikasi variabel
Sesuai dengan definisi operasional variabel, variabel independen x yaitu definisi audit atas laporan keuangan historis. Variabel dependen Y yaitu keandalan struktur pengendalian intern
4. Jenis dan Sumber data
Jenis data yang digunakan di dalam penelitian ini adalah data kualitatif.
5. Sumber data
Data yang digunakan di dalam penelitian ini adalah data primer.
6. Populasi dan Metode Penentuan Sampel
Populasi penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang pernah diaudit oleh akuntan publik dari tahun 1999 – 2004 yang ada di Denpasar.
7. Metode pengumpulan data
Metode pengumpulan data untuk mengumpulkan data kualitatif maupun kuantitatif, adalah sebagai berikut :
1. Kuesioner merupakan daftar pertanyaan terstruktur yang diajukan kepada bagian keuangan atau akuntansi pada perusahaan yang telah diaudit oleh kantor akuntan publik
2. Wawancara dilakukan dengan responden untuk melengkapi kuesioner.
3. Observasi dilakukan pada perusahaan yang telah diaudit dalam kurun waktu 6 tahun, dari tahun 1999 – 2004 Denpasar Untuk melihat dari dekat semua pelaksanaan yang berkenaan dengan audit dan pengendalian interen.
Test of Validity ( Test kesasihan )
Pengujian instrumen penelitian dimulai dengan melihat uji validitas, yaitu dengan melihat setiap skor butir berkorelasi dengan skor total lebih besar dari 0,40 (Howard, 1999). Sebaliknya Sugiyono (2005 : 115 ) berpendapat bahwa bila korelasi setiap faktor tersebut positif dan besarnya 0,30 ke atas maka faktor tersebut merupakan construct yang kuat.
Test of reliability ( Test keandalan )
Pengukuran reliabilitas ( reliability ) dilakukan dengan menggunakan croncbanch alfa.
Teknik analisis data
Data di dalam penelitian ini diuji dengan menggunakan analisis regresi.
D. Hasil Penelitian
Pada penelitian atas frekuensi audit terhadap laporan keuangan historis terhadap keandalan struktur pengendalian interen dengan menggunakan alat analisis regresi, dalam pengujian diperoleh koefisien determinasi= 0,508 .Itu berarti bahwa keandalan struktur pengendalian intern dapat dijelaskan oleh variabel penjelas ( variabel bebas ) yaitu sebesar 50,8 persen yang diturunkan dalam model . Sebanyak 49,2 persen pengendalian interen dijelaskan oleh faktor lain yang mana menurut peneliti adalah faktor manajemen perusahaan dan faktor kualitas audit internal.Dengan demikian peneliti mengambil kesimpulan bahwa :
1. Keandan struktur pengendalian interen pada perusahaan di Kota Denpasar dipengaruhi secara signifikan oleh frekuensi audit pada laporan keuangan historis perusahaan.
2. Selain frekuensi audit pada laporan keuangan historis keandalan struktur pengendalian interen pada perusahaan di Kota Denpasar dipengaruhi juga oleh variabel – variabel lain.
E. Sumber
http://www.ejournal.unud.ac.id
Puspitaningrum said:
Mar 04, 10 at 3:11 pmAsslmalaikum
saya ingin minta quesionernya Christian R. Mamesah mengenai keahlian auditor yang dikembangkan dari pusdiklat BPKP.thanks saya tunggu blsannya di email saya.Sekali lagi teerimakasih atas bantuannya